Minggu, 31 Maret 2019

MENJAGA KERUKUNAN DI TAHUN POLITIK


MENJAGA KERUKUNAN DI TAHUN POLITIK
Oleh: Rosya Megawati

Awal bulan April 2019 merupakan awal terukirnya harapan baru bagi masa depan bangsa Indonesia untuk memiliki calon pemimpin ideal yang nantinya akan membawa perubahan besar bagi kebaikan dan kemajuan bangsa. Mengapa demikian? April menjadi bulan kontestasi politik 2019 yakni diselenggarakannya pemilu serentak antara pemilu legislatif dan pemilu presiden dan wakil presiden periode 2019/2024. Tinggal beberapa minggu lagi perhelatan akbar hajatan demokrasi bangsa Indonesia akan dilaksanakan. Para partai politik pun sudah mulai mempersiapkan berbagai strategi kemenangan untuk menjadi yang terbaik dalam menyuguhkan calon wakil rakyat dan calon presiden 2019.
Parpol pun mulai melancarkan berbagai manuvernya demi mencapai suatu kemenangan mufakat. Tahun politik pada tahun ini tidak begitu saja disia-siakan oleh para parpol. Mereka ingin meemberikan figur terbaik bagi kemaslahatan masyarakat serta pembangunan daerah. Figur pemimpin yang bersih dari korupsi, narkoba, paham radikal, serta kejahatan lainnya. Figur pemimpin yang dapat menaungi berbagai macam jenis dan bentuk masyarakat tanpa adanya diskriminasi. Pemimpin yang toleran, berpikir cerdas dan progresif, berjiwa muda, bertingkah laku adil, insklusif, tegas, jujur, berakhlaq mulia, berhati pancasila merupakan sosok pemimpin yang sangat dirindukan dan relevan di era digital saat ini. Tak hanya menyiapkan berbagai kebutuhan pemilu, figur pemimpin paripurna, tetapi yang tak boleh dilupakan ialah bagaimana cara untuk selalu rukun, menjaga sportifitas, memelihara keberagaman dalam kedamaian meski pilihan politiknya berbeda. Hal itu sangatlah penting di zaman yang sangat sensitif ini. Banyak sekali gejala sosial  yang disengaja maupun tanpa disengaja berujung pada pelanggaran hukum karena mengandung unsur ujaran kebencian, penistaan agama, pencemaran nama baik, isu sara, dan sebagainya yang dapat merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara yang rukun, aman, dan damai.
Tahun politik sekarang ini sangatlah tepat kita maknai sebagai wadah untuk menempah diri dan menguji diri serta bangsa Indonesia dalam rangka menjaga kerukunan serta mempererat tali keragaman di nusantara ini. Kerukunan dan kedamaian negeri sangatlah penting untuk kita jaga disaat situasi dan kondisi bangsa yang sedang menghadapi kontestasi politik, baik sebelum maupun setelah pelaksanaan kontestasi politik berupa pileg dan pilpres 2019. Memang kita memiliki pandangan, pemikiran, dan pilihan politik yang berbeda-beda. Namun, hal itu tidak menjadi suatu alasan untuk selalu mempertahankan fondasi kerukunan dan kedamaian dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Hidup rukun dan damai merupakan salahsatu nilai luhur bangsa ini yang menjadi sebuah karakter murni bangsa Indonesia. Hidup rukun dan damai merupakan manifestasi dari nilai-nilai luhur pancasila yang termaktub pada sila ketiga, yakni persatuan Indonesia. Artinya, kerukunan dan kedamaian merupakan misi dari terbentuknya persatuan Indonesia. Kehidupan yang rukun dan damai dalam suatu negara yang heterogen seperti Indonesia sangatlah penting sebagai tiang penyanggah persatuan Indonesia. Kerukunan dan kedamaian dalam hidup berbangsa dan bernegara merupakan penyebab eratnya tali persatuan Indonesia di atas segala perbedaan bangsa Indonesia.
Kita perlu bersama-sama berpikir dan bertindak bijak dan dewasa, sekaligus cerdas dalam mengikuti tahun politik kali ini. Jangan sampai hanya satu atau dua kelalaian kita akan jati diri dan tanggung jawab kita sebagai generasi bangsa atau warga negara Indonesia yang dapat menimbulkan putusnya tali persatuan, sirnanya rasa persaudaraan, runtuhnya tiang penyanggah persatuan bangsa Indonesia, pemicu terjadinya perpecahan dan permusuhan terus-menerus. Hal itu tidaklah dibenarkan di dalam menjalani roda kehidupan demokrasi pancasila di tanah bumi pertiwi ini. Kita harus sadar dan kritis akan pentingnya menciptakan hidup rukun, damai, dan harmonis di tengah konstelasi tahun politik 2018 hingga 2019. Janganlah ego sektoral, kepartaian, nafsu kekuasaan yang berlebihan, ambisi politik, arogansi politik dapat menguasai akal sehat dan nurani kita sebagai manusia yang berakal dan bernurani. Marilah kita bersama-sama mengalahkan ego dan nafsu politik kekuasaan kita demi misi yang mulia, yakni menjaga, memelihara, sekaligus menciptakan kehidupan yang rukun, damai, dan harmonis di dalam kontestasi politik tahun 2018 hingga 2019 sebagai bekal kita menjadi bangsa yang besar dan beradab.
Sudah saatnya kita membebaskan diri ini dari tali kekuasaan ego, nafsu, ambisi berlebihan, arogansi, dan kesombongan kita untuk meleburkan diri menjadi pribadi manusia yang paripurna dan seutuhnya sesuai dengan nilai-nilai luhur pancasila dan karakter bangsa Indonesia. Tahun politik memang suatu ujian besar kita dalam  menjaga tali kerukunan dan kedamaian hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia. Kita harus mulai mawas diri jangan sampai lupa diri akan jati diri bangsa ini dan diri kita sendiri sebagai generasi bangsa Indonesia atau warga negara Indonesia. Kita harus ingat dan sadari bahwa menjaga tali kerukunan, kedamaian, dan keharmonisan dalam suatu kehidupan berbangsa dan bernegara lebih penting daripada apapun, termasuk tahta, harta, dan kepentingan politik parpol semata. Mari kita sembuhkan hati dan pikiran kita dari penyakit lupa diri, kesombongan, politik buta, dan penyakit hati lainnya dengan cara selalu mawas diri, toleransi, pengendalian diri, membangun kesadaran kritis, menanamkan kesadaran nasional, dan berpikir dengan akal sehat serta hati yang bersih. Semoga Indonesia memiliki pemimpin yang ulil albab. Amiin.

Rabu, 20 Maret 2019

Ibu Pertiwi, Ajari Aku!


IBU PERTIWI, AJARI AKU!

Oleh: Rosya Megawati

Ibu pertiwi, Ajari aku tuk mengenal negeri ini
Ajari aku tuk mencintaimu dengan sederhana dan sepenuh hati
Ibu pertiwi, didiklah aku menjadi anak bangsa yang berbakti
Berbakti padamu dan pada bangsaku ini

Duhai, ibu pertiwi
Ajari aku untuk berjalan pada kebenaran
Ajari aku untuk mengenal Tuhanku dan diriku ini
Ibu pertiwi, jangan biarkan aku lupa diri

Ibu pertiwiku, ajari aku tentang kesetiaan pada negeri ini
Ajari aku tentang rasa kebangsaan dan cinta tanah air ini
Bimbing aku agar tak salah arah
Ajari aku akan jalan kebenaran untuk negeri ini

Ibu pertiwi, ajari aku tentang politik kebangsaan yang benar
Agar aku tak memperalat politik untuk kekuasaan pribadi
Ajari aku untuk menjauh dari sikap korupsi
Aku ingin jadi anakmu yang jujur dan bersih

Ibu pertiwi, ajari aku jadi pemimpin yang adil dan bijaksana
Agar aku tak jadi pemimpin yang lupa diri dan dusta
Ajari aku agar dapat berbuat kebaikan untuk rakyatku
Agar aku tak mengkhianati rakyatku

Ibu pertiwi, jangan biarkan aku jatuh dan lumpuh hati
Berikan nasihatmu untuk diriku yang sering khilaf ini
Jangan tinggalkan aku pada romansa dunia yang menggodaku
Bekali aku dengan ilmu dan agama nan suci

Mojokerto, 21 Maret 2019

Minggu, 03 Maret 2019

Perjalanan penaku



“MENGGERAKKAN KATA, MENGUKIR PERADABAN”
Oleh: Rosya Megawati

Rasanya dunia baru ini telah menarik hatiku dan menyihirku dengan mantra-mantra kebebasan, kejujuran, keindahan, kenyamanan, dan kemnadirian. Jika ada orang yang ingin hidup dengan kebebasan, maka dunia ini sangatlah tepat untuk dijadikan rumah pelarian atau persinggahannya untuk memperoleh kebebasan demi terwujudnya kebebasan yang berperadaban. Aku mulai jatuh cinta dengan dunia baruku ini. Dunia yang sangat cocok dengan karakterku yang bebas, jujur, damai, indah, nyaman, dan menakjubkan.
Ya... itulah dunia pena, dunia tulis-menulis, dunia membaca, dunia mengarang, dunia menghayal, dunia imajinasi, dunia pikiran, dunia keindahan, dunia manusianya manusia, dunia tanpa batas.
Menulis merupakan dunia manusia yang sesungguhnya. Dunia yang sesuai dengan kehidupan dan hakikat manusia. Menulis memang kata kerja yang dapat menggerakkan manusia menjadi manusia, pemimpin pikiran, dan penggerak peradaban. Menulis berawal dari semangat, tekad, kesungguhan, mimpi, imajinasi untuk mengubah kata-kata menjadi sebuah kekuatan rasa dan pikiran menciptakan sebuah peradaban manusia maupub dunia.” Sebuah Kata,  Sebuah Peradaban”! itulah kata-kata bijak yang saya lontarkan sebagai motivasi dan pijakan untuk memberikan sentuhan nilai, etika, dan estetika ke dalam sebuah kata.
Sebuah kata yang bermakna akan membentuk  sebuah kalimat yang bermakna, sehingga mampu mengajarkan kepada manusia tentang nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan. Manusia akan tergerakkan hati dan pikirannya untuk melebur pada sebuah tindakan yang nyata disegala aspek kehidupan. Diawal tadi saya mengatakan bahwa menulis merupakan dunia yang sesuai dengan kehidupan dan hakikat manusia. Artinya, manusia adalah makhluq berpikir, makhluq berperasaan, makhluq bertindak atau berprilaku. Daya pikir manusia akan menghasilkan sebuah karya berupa ilmu pengetahuan dan teknologi dalam ranah konsep atau desain. Oleh karena itu, manusia akan menjadi sebagai kreator