MENJAGA
KERUKUNAN DI TAHUN POLITIK
Oleh:
Rosya Megawati
Awal bulan April 2019 merupakan awal terukirnya harapan baru bagi masa depan bangsa Indonesia untuk memiliki calon pemimpin ideal yang nantinya akan membawa perubahan besar bagi kebaikan dan kemajuan bangsa. Mengapa demikian? April menjadi bulan kontestasi politik 2019 yakni diselenggarakannya pemilu serentak antara pemilu legislatif dan pemilu presiden dan wakil presiden periode 2019/2024. Tinggal beberapa minggu lagi perhelatan akbar hajatan demokrasi bangsa Indonesia akan dilaksanakan. Para partai politik pun sudah mulai mempersiapkan berbagai strategi kemenangan untuk menjadi yang terbaik dalam menyuguhkan calon wakil rakyat dan calon presiden 2019.
Parpol pun mulai
melancarkan berbagai manuvernya demi mencapai suatu kemenangan mufakat. Tahun
politik pada tahun ini tidak begitu saja disia-siakan oleh para parpol. Mereka
ingin meemberikan figur terbaik bagi kemaslahatan masyarakat serta pembangunan
daerah. Figur pemimpin yang bersih dari korupsi, narkoba, paham radikal, serta
kejahatan lainnya. Figur pemimpin yang dapat menaungi berbagai macam jenis dan
bentuk masyarakat tanpa adanya diskriminasi. Pemimpin yang toleran, berpikir
cerdas dan progresif, berjiwa muda, bertingkah laku adil, insklusif, tegas,
jujur, berakhlaq mulia, berhati pancasila merupakan sosok pemimpin yang sangat
dirindukan dan relevan di era digital saat ini. Tak hanya menyiapkan berbagai
kebutuhan pemilu, figur pemimpin paripurna, tetapi yang tak boleh dilupakan
ialah bagaimana cara untuk selalu rukun, menjaga sportifitas, memelihara
keberagaman dalam kedamaian meski pilihan politiknya berbeda. Hal itu sangatlah
penting di zaman yang sangat sensitif ini. Banyak sekali gejala sosial yang disengaja maupun tanpa disengaja
berujung pada pelanggaran hukum karena mengandung unsur ujaran kebencian,
penistaan agama, pencemaran nama baik, isu sara, dan sebagainya yang dapat
merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara yang rukun, aman, dan
damai.
Tahun politik
sekarang ini sangatlah tepat kita maknai sebagai wadah untuk menempah diri dan
menguji diri serta bangsa Indonesia dalam rangka menjaga kerukunan serta
mempererat tali keragaman di nusantara ini. Kerukunan dan kedamaian negeri
sangatlah penting untuk kita jaga disaat situasi dan kondisi bangsa yang sedang
menghadapi kontestasi politik, baik sebelum maupun setelah pelaksanaan
kontestasi politik berupa pileg dan pilpres 2019. Memang kita memiliki
pandangan, pemikiran, dan pilihan politik yang berbeda-beda. Namun, hal itu
tidak menjadi suatu alasan untuk selalu mempertahankan fondasi kerukunan dan
kedamaian dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Hidup rukun dan
damai merupakan salahsatu nilai luhur bangsa ini yang menjadi sebuah karakter
murni bangsa Indonesia. Hidup rukun dan damai merupakan manifestasi dari
nilai-nilai luhur pancasila yang termaktub pada sila ketiga, yakni persatuan
Indonesia. Artinya, kerukunan dan kedamaian merupakan misi dari terbentuknya
persatuan Indonesia. Kehidupan yang rukun dan damai dalam suatu negara yang
heterogen seperti Indonesia sangatlah penting sebagai tiang penyanggah
persatuan Indonesia. Kerukunan dan kedamaian dalam hidup berbangsa dan bernegara
merupakan penyebab eratnya tali persatuan Indonesia di atas segala perbedaan
bangsa Indonesia.
Kita perlu
bersama-sama berpikir dan bertindak bijak dan dewasa, sekaligus cerdas dalam
mengikuti tahun politik kali ini. Jangan sampai hanya satu atau dua kelalaian
kita akan jati diri dan tanggung jawab kita sebagai generasi bangsa atau warga
negara Indonesia yang dapat menimbulkan putusnya tali persatuan, sirnanya rasa
persaudaraan, runtuhnya tiang penyanggah persatuan bangsa Indonesia, pemicu
terjadinya perpecahan dan permusuhan terus-menerus. Hal itu tidaklah dibenarkan
di dalam menjalani roda kehidupan demokrasi pancasila di tanah bumi pertiwi
ini. Kita harus sadar dan kritis akan pentingnya menciptakan hidup rukun,
damai, dan harmonis di tengah konstelasi tahun politik 2018 hingga 2019. Janganlah
ego sektoral, kepartaian, nafsu kekuasaan yang berlebihan, ambisi politik,
arogansi politik dapat menguasai akal sehat dan nurani kita sebagai manusia
yang berakal dan bernurani. Marilah kita bersama-sama mengalahkan ego dan nafsu
politik kekuasaan kita demi misi yang mulia, yakni menjaga, memelihara,
sekaligus menciptakan kehidupan yang rukun, damai, dan harmonis di dalam
kontestasi politik tahun 2018 hingga 2019 sebagai bekal kita menjadi bangsa
yang besar dan beradab.
Sudah saatnya
kita membebaskan diri ini dari tali kekuasaan ego, nafsu, ambisi berlebihan,
arogansi, dan kesombongan kita untuk meleburkan diri menjadi pribadi manusia
yang paripurna dan seutuhnya sesuai dengan nilai-nilai luhur pancasila dan
karakter bangsa Indonesia. Tahun politik memang suatu ujian besar kita
dalam menjaga tali kerukunan dan
kedamaian hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia. Kita harus mulai mawas
diri jangan sampai lupa diri akan jati diri bangsa ini dan diri kita sendiri
sebagai generasi bangsa Indonesia atau warga negara Indonesia. Kita harus ingat
dan sadari bahwa menjaga tali kerukunan, kedamaian, dan keharmonisan dalam
suatu kehidupan berbangsa dan bernegara lebih penting daripada apapun, termasuk
tahta, harta, dan kepentingan politik parpol semata. Mari kita sembuhkan hati
dan pikiran kita dari penyakit lupa diri, kesombongan, politik buta, dan
penyakit hati lainnya dengan cara selalu mawas diri, toleransi, pengendalian
diri, membangun kesadaran kritis, menanamkan kesadaran nasional, dan berpikir
dengan akal sehat serta hati yang bersih. Semoga Indonesia memiliki pemimpin
yang ulil albab. Amiin.