SISI POSITIF DARI AJANG MISS WORLD
2013 UNTUK INDONESIA
Oleh: Rosya Megawati
No.
Hp: 083849430324
Aktivis
PMII SIDOARJO
Penyelenggaraan Miss World 2013 yang
akan dilaksanakan pada tanggal 28 September 2013 di Nusa Dua, Bali telah banyak
menuai pro dan kontrak dari berbagai kalangan masyarakat tanah air. Kontes
kecantikan tingkat dunia tersebut merupakan kontes kecantikan wanita-wanita
dunia yang tertua, yakni dimulai sejak tahun 1951 M. Pada tahun 2013 inilah
menjadi kebanggaan bagi Indonesia sendiri yang telah diberi kesempatan untuk
menjadi tuan rumah pertama kali se-Asia Tenggara. Namun, hal itu tidak luput
dari banyak kecaman berupa pro dan kontrak terkait pelaksanaan Miss World 2013
di Indonesia. Adanya kontradiksi tersebut merupakan suatu hal yang wajar bagi
perjalanan kehidupan demokrasi di Indonesia.
Perbedaan pendapat dalam pelaksanaan
Miss World 2013 merupakan salahsatu bagian dari kehidupan demokrasi Indonesia .
Akan tetapi, perlu ditelaah kembali mengenai fenomena kontradiksi pelaksanaan
Miss World 2013 di Bali, Indonesia jangan sampai ditanggapi dengan sikap yang
anarkis atau arogan dari salahsatu kelompok, golongan tertentu yang dapat
mencoreng arang dikening tanah air ini di hadapan cerminan masyarakat dunia.
Dengan kata lain, masyarakat Indonesia yang menentang pelaksanaan Miss World
2013 di Indonesia sebaiknya direspon dengan sikap yang lebih bijak dan dewasa,
sehingga tidak hanya berteriak sebagai wujud tidak setuju peyelenggaraan kontes
kecantikan tersebut, tetapi tidak memberikan suatu solusi yang bermanfaat bagi
keanekaragaman Indonesia maupun reputasi bangsa Indonesia di mata dunia.
Saya tidak bisa menyalahkan mereka yang
menentang adanya Miss World 2013 di Indonesia. Sebab, kontes kecantikan
tersebut cenderung lebih banyak mengadopsi budaya western atau kebarat-baratan
dengan menampilkan sesi gaun renang (bikini). Hal itu, sangatlah bertentangan
dengan jatidiri bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya ketimuran serta
menjunjung tinggi nilai estetika yang berkesopanan dan kearifan lokal,
sedangkan budaya barat terkait penampilan berpakaian sangatlah bebas dan jauh
dari nilai-nilai etika dan agama. Selain itu, bagi elemen masyarakat Indonesia
yang menentang telah memberikan rasionalisasinya bahwa mereka menganggap kalau
Miss World 2013 merupakan ajang yang akan mengeksploitasi keindahan wanita
dunia dari sisi fisik serta mengebiri nilai-nilai agama sebagai cerminan fitrah
perempuan yang memiliki nilai kemartabatan yang harus dilindungi dari kehinaan.
Saya pun sebenarnya juga tidak setuju
adanya kontes kecantikan seperti Miss World 2013 atau sejenisnya karena
penilaiannya lebih kepada kecerdasan otak, keindahan fisik, kepedulian sosial
yang fenomenal atau sesuatu yang dapat diukur dengan angka maupun jawaban
kontestan dari pertanyaan dewan juri. Penilaiannya tidak melibatkan nilai
etika, estetika kepribadian diri maupun sosial
yang substantif bukan pragmatis,
serta nilai-nilai martabat perempuan dunia yang selalu menjaga lekukan tubuhnya
dari mata negatif. Namun, kita sebagai warga negara Indonesia atau masih
berteduh di tanah air Indonesia seharusnya menghegemoni diri kita dengan
nilai-nilai positif dari ajang Miss World 2013 untuk Indonesia. Artinya, bukan
masalah teknik penyelenggaraannya yang sangat vulgar dan jauh dari nilai-nilai
budaya timur yang dianut oleh Indonesia, tetapi lebih melihat dengan kacamata
positif untuk Indonesia sendiri, yakni sebagai wahana untuk mengeksplorasi
keindahan dan kecantikan yang terpancar dari dalam diri tanah air Indonesia.
Indonesia merupakan negara satu-satunya
di dunia yang memiliki kekayaan budaya dan alam yang luar biasa dibandingkan
dengan negara-negara lainnya. Inilah yang menjadi the power
of value bagi bangsa Indonesia sendiri yang terpancar di dalam diri
masyrakat Indonesia dengan keramah tamahannya, kesopanan, dan tutur katanya
yang lemah lembut terhadap masyarakat dunia. Negara manapun di dunia tidak ada
yang memiliki ribuan telah mengajarkan kebudayaan serta milyaran pesona alam di
tanah garuda yang alami dan variatif . Satu negara memiliki bermacam-macam
adat, bahasa, budaya, agama, dan suku, yakni Indonesia.
Adanya Miss World 2013 di Indonesia ini pada
kita untuk lebih dewasa dan bijak dalam menanggapi semua problematika
kehidupan, khususnya problematika bangsa Indonesia dengan cara berpikir,
berjiwa, dan bertindak positif melalui upaya yang continue dalam menggali
nilai-nilai kebenaran dan keluhuran yang berkearifan lokal. Artinya, melalui
Miss World 2013 ini secara tak sengaja telah menunjukkan dan membuktikan kepada
dunia akan keanekaragaman budaya, bahasa, suku, adat istiadat, alam, dan agama
yang dimiliki oleh negara Indonesia, sehingga dapat dijadikan sebagai
legitimasi kekayaan khas Indonesia agar tidak direbut atau dikuasai untuk
diakui oleh negara lain sebagai kekayaan miliknya sendiri.
Ajang Miss World 2013 di Indonesia yang
bertempat di Nusa Dua, pulau dewata, Bali dengan tema “Bring Indonesian’s Beauty To The World” telah menjadi saksi nyata
akan jatidiri bangsa Indonesia yang luhur, bermartabat, santun, dan bersatu
meski hidup ditengah-tengah heterogensi masyarakat dan budayanya, sehingga
dapat menepis pemberitaan dunia selama ini tentang Indonesia yang dijadikan
sebagai gudangnya teroris, masyarakat bertangan besi, korupsi, terpuruk, dan
instan. Ajang Miss World 2013 juga dapat dijadikan sebagai cerminan atau
introspeksi diri kita sebagai masyarakat Indonesia , khususnya para elit
politik senayan, pejabat, penegak hukum, dan generasi muda tanah air untuk mulai
menyadarkan diri serta merekonstruksi nilai-nilai estetika hati, estetika
pemikiran, estetika prilaku, dan kreativitas yang produktif sesuai dengan
karakter bangsa Indonesia sebagai negara yang berbudaya, berketuhanan,
demokrasi pancasila, dan toleransi akan heterogensi masyarakatnya sendiri.
Dengan demikian, penyelenggaraan Miss
World di Indonesia pada tahun 2013 sekarang ini perlu dicermati tipologi negara
kita apakah sebagai negara yang berasaskan Islam fundamen, sekuler, atau
moderat? Apabila negara kita adalah negara Islam yang tradisionalis atau
fundamentalis, maka segala regulasi kehidupan masyarakat Indonesia beserta
pemerintahannya mengimplementasikan ajaran Islam tradisional sebagai konstitusi
negara, sehingga pelaksanaan Miss World 2013 di Indonesia boleh ditolak
kehadirannya karena tidak sesuai dengan konstitusi ajaran Islam yang dianut
oleh negara Indonesia. Namun, jika negara kita merupakan katagori negara
sekuler yang memisahkan antara agama dengan negara karena sistem kehidupan
negara tidak ada kaitannya dengan regulasi ajaran agama Islam, maka pelaksanaan
Miss World 2013 di Indonesia tidak dapat ditolak kehadirannya. Akan tetapi,
jika negara Indonesia berada dikatagori negara yang moderat, yakni negara yang
mampu beradabtasi dengan kemajuan zaman tanpa menghilangkan karakter kearifan
lokal bangsa Indonesia atau mampu memelihara nilai-nilai keluhuran bangsa
Indonesia di tengah kehidupan modernisasi zaman, sehingga nilai-nilai agama,
budaya, ataupun kearifan lokal tetap tumbuh subur di dalam kehidupan masyarakat
Indonesia, maka pelaksanaan Miss World 2013 dapat dilaksanakan di Indonesia dan
diterima kehadirannya sebagai tamu yang berkunjung ke Indonesia yang harus kita
hormati, hargai, dan dilindungi akan keselamatannya sebagai wujud toleransi
kita pada mereka. Bukankah pihak penyelenggara Miss World 2013 telah menghargai
keputusan kita untuk tidak ada sesi menggunakan pakaian renang (bikini), tetapi
diganti dengan pakaian yang dikombinasi dengan sarung batik bali.
Ibarat ada seorang tamu dengan
berpakaian yang tidak sesuai dengan karakter kita telah berkunjung ke rumah
kita, apakah kita harus mengusirnya dengan semena-mena hanya karena mereka
berpakaian yang tidak sesuai dengan karakter kita? Padahal mereka berkunjung ke
rumah kita dengan cara dan niat yang baik, yakni menjalin silaturahim dan
mempererat tali persaudaraan agar tidak terjadi permusuhan dunia. Hal ini
sebagai upaya untuk berpartisipasi dalam perdamaian dunia dengan cara menerima
mereka dengan sikap yang toleran dan santun. Seharusnya kita menampilkan
karakter bangsa Indonesia yang sesungguhnya kepada dunia, yakni masyarakat yang
ramah, santun, toleran, dan tak pandang bulu dalam bergaul.