Rabu, 10 Juni 2020

PUISI: APA KABAR IBUKU?


APA KABAR IBUKU?
Oleh: Rosya Megawati

Apa kabar ibu
Anakmu ini rindu sekali denganmu
Karena situasi dan kondisi saat ini
Membuatku jadi jauh darimu karena wabah penyakit
Kapan wabah ini hilang ibu...
Kapan aku bisa memelukmu, mencium tangan dan pipimu...
Dan... kapan kau bisa membelai rambutku dengan kasih sayangmu...
Ibu, aku rindu rumahmu
Aku rindu sekolah, teman, dan guru-guruku
Mereka pun rindu pekerjaannya, teman, dan suasana dunia kerja
Ibu, benarkah wabah ini tak bisa pergi...
Kapan wabah yang datang tanpa menyapa ini sirna dari bumi ini
Aku ingin bisa hidup bebas dan merdeka bersamamu ibu
Tanpa jarak, tanpa masker, tanpa larangan, dan papan portal
Bisa menghirup udara secara sehat dan bersih
Merdeka tanpa belenggu alat-alat penutup mulut dengan apapun namanya
Ibu, semoga kau baik dan sehat selalu
Ibu, benarkah dengan kondisi yang tak pasti yang kulihat saat ini...
Benarkan situasi ini sungguh murni terjadi...
Dan membuatku dan kau harus hidup dalam ketidakpastian ini
Ibu, bisakah kita hidup bersama wabah yang tak kunjung pergi ini...
Bisakah kita bangkit untuk bertahan di tengah keterpurukan yang tak pasti...
Ibu, semoga kau baik-baik saja
Bu, semoga kau lekas sembuh dari wabah ini
Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melindungimu dan diriku ini dari berbagai bala, wabah, dan keburukan di dunia ini
Semoga Tuhan Yang Maha Esa memusnahkan penyakit menular ini
Agar aku dan dirimu bisa kembali hidup dengan suka cita, bahagia, dan sejahtera
Bu, doakan anakmu ini bisa bertahan hidup di tengah pandemi ini
Doakan mereka pemilik kebijakan agar bisa menemukan solusi yang adil dan bijak
Doakan pemimpin kita bisa membantuku dan kau untuk terlepas dari pandemi ini
Doakan agar Tuhan Yang Maha Esa memberikan akal pikiran yang sehat bagiku, kau dan pemimpin kita untuk mampu membaca situasi dan kondisi secara kritis dan cerdas
Bu, doakan para ilmuwan bisa berusaha untuk meneliti dan menemukan obat penawar penyakit menular ini
Doakan para pejuang kesehatan untuk selalu sabar dan tabah dalam membantu saudara-saudaraku yang terkena penyakit itu
Doakan juga para tim medis agar selalu berada dalam lindungan Tuhan YME dari penyakit menular itu
Apa kabar bu...
Kapan kita bisa bercanda, bergurau, dan berbincang-bincang hangat
Dengan secangkir teh, kopi, koran, dan sepiring biskuit
Dalam menyapa matahari yang sedang tersenyum lebar itu
Melihat bumi dan dunia kembali sehat
Aku rindu suasana pagi hari cerah ceriah
Suasana sore menjemput malam dengan suka cita
Suasana malam terselimuti cahaya bulan dan bintang yang tersenyum lebar pada dunia
Bu, Apa kabar...

Mojokerto, 11 Juni 2020
Dalam ruang kontemplasiku

Senin, 13 April 2020

PUISI MERAIH CAHAYAMU


MERAIH CAHAYAMU

Aku berjalan tak tentu arah
Mencari sesuatu yang tak pasti
Mengharapkan adanya tetesan pencerah
Dunia yang begitu sunyi

Tak ada keheningan nan suci
Tak ada lentera cahaya yang menerangi
Tak ada sahabat yang menemani
Semuanya telah tiada dan mati

Hidup tanpa cahaya
Hanya keresahan yang ada
Ketakutan akan kegelapan yang merajalela
Sungguh kehampaan yang ada

Lalu... aku harus kemana...
Kegelapan yang membuatku
Tak menemukan pancaran cahaya
Kemana aku harus menuju...

Ya Alloh... kemanakah cahaya-Mu...
Kemanakah aku harus menemukan cahaya-Mu...
Cahaya yang mampu menerangi kehidupan
Bantu aku untuk menemukan jalan itu

Ingin rasanya diri ini
Terjaga setiap saat untuk menemukan cahaya-Mu
Cahaya yang dirindukan oleh semua hamba-Mu
Pelita yang selalu menyejukkan hati hamba-MU.

Ya Alloh... Tunjukkan hamba pada jalan-Mu
Jalan yang terang dan lurus
Jalan yang Engkau ridhoi dan rahmati
Jalan kebahagiaan dunia dan akhirat

Hidupku butuh cahaya-Mu tuk menemukan ketenteraman
Akalku butuh cahaya-Mu tuk menemukan kebenaran logika
Hatiku butuh cahaya-Mu tuk menemukan kedamaian
Ya... Alloh tuntun aku pada cahaya-Mu

Mojokerto, 14 April 2020
Dalam ruang kontemplasiku


PUISI SUARA ORANG PINGGIRAN


SUARA ORANG PINGGIRAN
Oleh: Rosya Megawati

Suara orang pinggiran yang tak terdengar
Dalam dinding-dinding istana
Dalam telinga sang raja
Dalam hati para senator

Ini suara orang yang terpinggirkan
Hidup di tengah wabah penyakit mengerikan
Tak tahu kapan akan berakhir
Hidupnya jadi tergantung dan terlunta-lunta

Dengarkanlah suara minta tolong
Wahai sang raja
Rakyatmu butuh welas asihmu dan tangan adilmu
Jangan matikan pekerjaan kami

Ini suara kami, orang-orang yang terpinggirkan
Kapan kesulitan ini hilang
Kapan virus ini sirna dari bumi pertiwi kami
Kapan kami bisa hidup normal dan aman

Kapan kami bisa kembali ke bangku sekolah
Merasakan indahnya bersama guru dan teman kami
Bermain dan belajar seperti dulu lagi
Kami rindu buku dan suasana sekolah kami

Kapan kami bisa bekerja dengan nyaman
Merasakan indahnya bersama teman, kawan, dan sahabat
Merasakan suka dan duka di dunia kerja kami
Kami rindu pekerjaan kami yang dulu

Kami ingin bekerja tanpa ada rasa takut karena pandemi
Kami ingin hidup dengan sejahtera tanpa rasa takut dan panik
Kami ingin hidup bermasyarakat secara aman dan normal
Kami ingin bebas dari pandemi yang membui hidup kami

Kapan ini berakhir... wahai rajaku
Rakyatmu menantikan welas asihmu dan tangan lembutmu
Membantu kami yang terlunta-lunta
Gara-gara virus yang merajalela

Jangan biarkan kami hidup dalam kebodohan
Karena corona
Jangan biarkan kami hidup dalam kemiskinan
Karena pandemi corona
Jangan biarkan kami hidup dalam kekufuran
Karena virus itu yang telah meluluhlantahkan hak hidup kami

Ini suara orang-orang pinggiran
Yang menggantungkan hidupnya dari jalanan
Dari kedai kopi
Dari toko dan perdagangan

Ini suara orang pinggiran
Yang tak bisa hidup di rumah saja
Pekerjaan kami adanya di luar rumah
Pekerjaan yang jadi nafas hidup kami

Kami bukanlah pekerja televisi yang upahnya setinggi langit
Kami bukanlah PNS yang hidupnya terjamin oleh negara
Meski mereka bekerja dirumah
Kami pun bukanlah pekerja seni yang bisa menggelar pertunjukan melalui gadget

Wahai rajaku... dengarlah suara kami
Suara orang-orang pinggiran
Yang hidup di pinggir jalan dan luar rumah
Kami menantikan tangan adilmu dan kasihmu

Ini suara kami... oarng-orang pinggiran
Ekonomi kami bergantung pada roda jalanan
 Hidup kami tak bisa dibatasi di dalam rumah saja
Beri kami saran yang adil dan pasti untuk kesejahteraan hidup kami

Mojokerto, 31 Maret 2020
Dalam ruang kontemplasiku


PUISI UMUR


UMUR
Oleh: Rosya Megawati

Tak ada yang abadi di dunia ini
Semuanya hanya sementara
Kata filosof... hidup itu bak roda yang berputar
Kadang di bawah, kadang di atas

Kadang  merasa bahagia
Kadang merasa duka
Kadang hidup dengan harta
Kadang juga hidup dengan kemiskinan

Manusia dan umur
Selalu berdampingan
Umur yang membawa manfaat atau mudarat
Umur... kadang singkat... kadang begitu panjang

Umur... rahasia Tuhan YME
Kapan umur manusia lanjut atau terhenti
Umur dan dunia, sama-sama sementara
Umur bak waktu dan uang

Sama-sama berharga dalam hidup manusia
Berharga... jika dimanfaatkan untuk kebaikan dan ibadah
Sia-sia... bahkan jenuh atau membosankan
Bila umur digunakan untuk kebathilan atau foya-foya

Umur... tak ada yang tahu kapan terhenti
Umur... ada yang menghargai
Ada juga yang menyia-nyiakan
Umur selalu berpacu dengan waktu

Umur dan waktu selalu berjalan pada rotasinya
Manusia mengisinya dengan sadar atau lupa diri
Umur bak harta yang berharga di dunia
Bekal hidup di akhirat yang kekal

Umur... ada yang pendek, ada yang panjang
Ada yang indah, ada yang suram
Umur... kadang membuat manusia lupa diri
Kadang juga menuntun pada jalan ILLAHI

Mojokerto, 8 April 2020
Dalam ruang kontemplasiku



PUISI ROMANSA DUNIA


ROMANSA DUNIA

Romansa dunia...
Apa itu romansa dunia?
Gelar akademik yang tinggi...
Jabatan yang mapan...

Mungkin, kekayaan melimpah tujuh turunan...
Mungkin juga fisik yang cantik dan tampan...
Atau rumah mewah, mobil mewah...
Mungkin itulah romansa dunia...

Romansa dunia membelenggu hati yang membisu
Pikiran jadi picik dan licik
Kepintaran hanya alat untuk menguasai
Manusia jadi haus akan kekuasaan

Kebenaran hanya ilusi
Romansa dunia berteman dengan kemunafikan
Kebohongan jadi kebiasaan
Kejujuran jadi barang langkah

Itukah yang dinamakan romansa dunia?
Merusak, menguasai tanpa hati, membohongi tanpa rasa bersalah
Bertindak sesuka hati tanpa menghargai
Membunuh kemanusiaan diri demi kepuasan nafsu pribadi atau golongan

Romansa dunia yang buta dan tuli
Manusia jadi budaknya era dan harta benda
Manusia jadi lupa diri akan Tuhan-Nya
Manusia ingkar akan tugas dan kewajibannya

Romansa dunia yang menjadi-jadi
Membuat manusia jadi lupa akan fitrahnya di bumi
Menenteramkan dan memakmurkan bumi dengan kebaikan
Tugasnya sebagai pemimpin di bumi menjelma sebagai perusak bumi

Romansa dunia yang tak bernilai
Manusia sadarlah... ini hanyalah sebuah romansa duniawi
Sementara yang membuatmu lupa diri
Sadarlah, bangunlah, berpikirlah akan rayuan sebuah romansa yang membuimu


Mojokerto, 8 April 2020

PUISI ONANI DEMOKRASI


ONANI DEMOKRASI
Oleh: Rosya Megawati

Onani demokrasi yang terjadi
Tanah airku tak sesubur lagi
Pilar demokrasi mulai runtuh lagi
Tali bhinneka kembali tercerai-berai

Pancasila ternodai dengan watak kapitalisme kaum elit
Hak kami dirampas, dikebiri, dijajah
Negeri ini katanya sudah merdeka
Tapi, hak kami masih terjajah oleh pikiran kapitalis kaum elit

Wahai, pemimpinku
Lupakah kau akan janji manismu yang kau lontarkan pada kami
Tak ingatkah kau akan janji profesimu di hadapan kitab suci
Tak takutkah kau pada Tuhan yang jadi saksi akan sumpah jabatanmu

Wahai penguasa negeriku,
Apa yang kau inginkan dari kami yang papa
Hidup dalam bayang-bayang arogansi dunia
Kau tambah penderitaan kami dengan aturan yang menjajah

Lupakah kau bahwa kami bukan sampah yang harus dibuang
Kami yang hidup di bawah kolong langit
Kami yang hidup di jalanan
Kami yang hidup tanpa rumah dan harta benda

Kami hidup di bawah penderitaan yang menjadi-jadi
Kau tambah penderitaan kami dengan aturanmu
Kami yang tak pernah merasakan lezatnya nasi dan susu
Justru kau jadikan ladang memperkaya negara

Bukankah kami ini tanggung jawab negara untuk disejahterakan
Bukankah ini tugasmu untuk melayakkan hidup kami
Menyelamatkan hak kami untuk merasakan hidup sejahtera
Merasakan hidup makmur di negeri sendiri

Tapi, tidak sekali lagi tidak
Kami teronani oleh tangan besimu
Demokrasi negeriku kau rusak dengan pikiran arogan elitmu
Lagi-lagi pilar demokrasi kau robohkan dengan tangan kapitalismu


Demokrasi negeri ini kau onani
Simbol keadilan negeri ini kau rusak dengan tangan politik kotormu
Kau anggap suara kami seperti tong kosong tak berisi
Suara kebenaran kami kau anggap seperti angin lalu
Kau anggap aksi turun jalan kami sia-sia
Tak sesuai dengan kondisi yang ada
Tapi, bagi kami aksi itu adalah perjuangan
Pengorbanan dan perjuangan kami menegakkan keadilan di negeri ini

Aksi kami adalah tanda pengingat para wakil kami yang lupa diri
Aksi kami ialah perjuangan kami melawan oligarki koloni
Aksi kami mengingatkan kaum elit politik yang mempermainkan hidup kami
Mereka mempermainkan nasib kami atas dengan mengatasnamakan undang-undang

Wahai elit politik negeri ini
Jangan nodai negeri demokrasi dengan aturan koloni
Jangan kebiri demokrasi dengan akal bulusmu dengan mengatasnamakan perbaikan
Jangan kau robohkan pilar-pilar demokrasi dengan tangan besimu

Ini negeri demokrasi
Tetaplah seperti itu
Ini negeri Pancasila
Lihatlah, pahami, dan laksanakan amanah yang kau emban... wahai pemimpinku

Mojokerto
Dalam ruang kontemplasiku



Selasa, 10 Maret 2020

PUISI INDONESIAKAH KITA


INDONESIAKAH KITA?
Oleh: Rosya Megawati

Indonesiakah kita...
Bila tak hafal pancasila
Bila tak hafal UUD 1945
Bila tak hafal jumlah provinsi di Indonesia

Indonesiakah kita...
Bila tak tahu isi berbagai macam undang-undang di negeri ini
Bila tak tahu bendera negeri ini
Bila tak tahu simbol dan lambang negara Indonesia

Indonesiakah kita...
Bila jiwa nasionalis dilihat dari ucapan saja
Bila setia dan cinta tanah air diukur dari narasi saja
Bila darah merah putih kita dilihat dari sebuah teks saja

Indonesiakah kita...
Bila sulit mengingat isi pancasila
Tapi, mampu menerapkan nilainya di kehidupan sehari-hari
Bila pikiran, hati, dan tindakan kita mencerminkan jati diri bangsa

Indonesiakah kita...
Bila tak tahu sejarah bangsanya sendiri
Bila tak tahu dan tak hafal cerita heroik para pahlawan bangsa ini
Bila kecerdasan di dapat dari negeri orang lain

Indonesiakah kita...
Bila masih merawat tradisi korupsi
Bila masih berteman dengan narkoba
Bila pikiran kita terselimuti oleh tindakan terorisme dan radikalisme

Indonesiakah kita...
Bila masih menyuburkan tradisi hedonis
Bila masih memelihara nafsu berkuasa yang berlebihan
Bila masih menjalankan praktik politik hitam

Indonesiakah kita...
Bila masih suka menodai jiwa kemanusiaan dengan kekerasan dan penindasan
Bila masih suka memelihara sikap diskriminatif dan merendahkan martabat perempuan
Bila masih memperbudak anak kecil demi kepuasan seks dan kapitalis

Indonesiakah kita...
Bila apatis dengan hari kemerdekaan dan hari-hari nasional yang bersejarah
Indonesiakah kita...
Bila suka keliling dunia tanpa menikmati keindahan negeri sendiri

Indonesiakah kita...
Bila masih suka merusak hutan dan lingkungan sendiri demi keuntungan bisnis
Bila masih suka menghardik dan membunuh binatang di negeri sendiri
Bila masih membumihanguskan seluruh flora di negeri sendiri

Indonesiakah kita....
Bila suka menebarkan kebencian dan perpecahan di tanah merah putih
Bila senang menggadaikan ideologi bangsa demi kepentingan pribadi atau golongan
Bila suka merusak kedamaian negeri ini dengan sikap yang arogan

Indonesiakah kita...
Tanyakan pada hati dan pikiran kita
Indonesiakah kita...
Lihatlah prilaku dan perbuatan kita

Mojokerto, 10 Maret 2020
Dalam ruang kontemplasi