Minggu, 02 Maret 2014

SISI POSITIF DARI AJANG MISS WORLD 2013 UNTUK INDONESIA



SISI POSITIF DARI AJANG MISS WORLD 2013 UNTUK INDONESIA
Oleh: Rosya Megawati
                                                           No. Hp: 083849430324                                      
Aktivis PMII SIDOARJO
Penyelenggaraan Miss World 2013 yang akan dilaksanakan pada tanggal 28 September 2013 di Nusa Dua, Bali telah banyak menuai pro dan kontrak dari berbagai kalangan masyarakat tanah air. Kontes kecantikan tingkat dunia tersebut merupakan kontes kecantikan wanita-wanita dunia yang tertua, yakni dimulai sejak tahun 1951 M. Pada tahun 2013 inilah menjadi kebanggaan bagi Indonesia sendiri yang telah diberi kesempatan untuk menjadi tuan rumah pertama kali se-Asia Tenggara. Namun, hal itu tidak luput dari banyak kecaman berupa pro dan kontrak terkait pelaksanaan Miss World 2013 di Indonesia. Adanya kontradiksi tersebut merupakan suatu hal yang wajar bagi perjalanan kehidupan demokrasi di Indonesia.
Perbedaan pendapat dalam pelaksanaan Miss World 2013 merupakan salahsatu bagian dari kehidupan demokrasi Indonesia . Akan tetapi, perlu ditelaah kembali mengenai fenomena kontradiksi pelaksanaan Miss World 2013 di Bali, Indonesia jangan sampai ditanggapi dengan sikap yang anarkis atau arogan dari salahsatu kelompok, golongan tertentu yang dapat mencoreng arang dikening tanah air ini di hadapan cerminan masyarakat dunia. Dengan kata lain, masyarakat Indonesia yang menentang pelaksanaan Miss World 2013 di Indonesia sebaiknya direspon dengan sikap yang lebih bijak dan dewasa, sehingga tidak hanya berteriak sebagai wujud tidak setuju peyelenggaraan kontes kecantikan tersebut, tetapi tidak memberikan suatu solusi yang bermanfaat bagi keanekaragaman Indonesia maupun reputasi bangsa Indonesia di mata dunia.
Saya tidak bisa menyalahkan mereka yang menentang adanya Miss World 2013 di Indonesia. Sebab, kontes kecantikan tersebut cenderung lebih banyak mengadopsi budaya western atau kebarat-baratan dengan menampilkan sesi gaun renang (bikini). Hal itu, sangatlah bertentangan dengan jatidiri bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya ketimuran serta menjunjung tinggi nilai estetika yang berkesopanan dan kearifan lokal, sedangkan budaya barat terkait penampilan berpakaian sangatlah bebas dan jauh dari nilai-nilai etika dan agama. Selain itu, bagi elemen masyarakat Indonesia yang menentang telah memberikan rasionalisasinya bahwa mereka menganggap kalau Miss World 2013 merupakan ajang yang akan mengeksploitasi keindahan wanita dunia dari sisi fisik serta mengebiri nilai-nilai agama sebagai cerminan fitrah perempuan yang memiliki nilai kemartabatan yang harus dilindungi dari kehinaan.
Saya pun sebenarnya juga tidak setuju adanya kontes kecantikan seperti Miss World 2013 atau sejenisnya karena penilaiannya lebih kepada kecerdasan otak, keindahan fisik, kepedulian sosial yang fenomenal atau sesuatu yang dapat diukur dengan angka maupun jawaban kontestan dari pertanyaan dewan juri. Penilaiannya tidak melibatkan nilai etika, estetika kepribadian diri maupun sosial  yang substantif  bukan pragmatis, serta nilai-nilai martabat perempuan dunia yang selalu menjaga lekukan tubuhnya dari mata negatif. Namun, kita sebagai warga negara Indonesia atau masih berteduh di tanah air Indonesia seharusnya menghegemoni diri kita dengan nilai-nilai positif dari ajang Miss World 2013 untuk Indonesia. Artinya, bukan masalah teknik penyelenggaraannya yang sangat vulgar dan jauh dari nilai-nilai budaya timur yang dianut oleh Indonesia, tetapi lebih melihat dengan kacamata positif untuk Indonesia sendiri, yakni sebagai wahana untuk mengeksplorasi keindahan dan kecantikan yang terpancar dari dalam diri tanah air Indonesia.
Indonesia merupakan negara satu-satunya di dunia yang memiliki kekayaan budaya dan alam yang luar biasa dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Inilah yang menjadi  the power of value bagi bangsa Indonesia sendiri yang terpancar di dalam diri masyrakat Indonesia dengan keramah tamahannya, kesopanan, dan tutur katanya yang lemah lembut terhadap masyarakat dunia. Negara manapun di dunia tidak ada yang memiliki ribuan telah mengajarkan kebudayaan serta milyaran pesona alam di tanah garuda yang alami dan variatif . Satu negara memiliki bermacam-macam adat, bahasa, budaya, agama, dan suku, yakni Indonesia.
Adanya Miss World 2013 di Indonesia ini pada kita untuk lebih dewasa dan bijak dalam menanggapi semua problematika kehidupan, khususnya problematika bangsa Indonesia dengan cara berpikir, berjiwa, dan bertindak positif melalui upaya yang continue dalam menggali nilai-nilai kebenaran dan keluhuran yang berkearifan lokal. Artinya, melalui Miss World 2013 ini secara tak sengaja telah menunjukkan dan membuktikan kepada dunia akan keanekaragaman budaya, bahasa, suku, adat istiadat, alam, dan agama yang dimiliki oleh negara Indonesia, sehingga dapat dijadikan sebagai legitimasi kekayaan khas Indonesia agar tidak direbut atau dikuasai untuk diakui oleh negara lain sebagai kekayaan miliknya sendiri.
Ajang Miss World 2013 di Indonesia yang bertempat di Nusa Dua, pulau dewata, Bali dengan tema “Bring Indonesian’s Beauty To The World” telah menjadi saksi nyata akan jatidiri bangsa Indonesia yang luhur, bermartabat, santun, dan bersatu meski hidup ditengah-tengah heterogensi masyarakat dan budayanya, sehingga dapat menepis pemberitaan dunia selama ini tentang Indonesia yang dijadikan sebagai gudangnya teroris, masyarakat bertangan besi, korupsi, terpuruk, dan instan. Ajang Miss World 2013 juga dapat dijadikan sebagai cerminan atau introspeksi diri kita sebagai masyarakat Indonesia , khususnya para elit politik senayan, pejabat, penegak hukum, dan generasi muda tanah air untuk mulai menyadarkan diri serta merekonstruksi nilai-nilai estetika hati, estetika pemikiran, estetika prilaku, dan kreativitas yang produktif sesuai dengan karakter bangsa Indonesia sebagai negara yang berbudaya, berketuhanan, demokrasi pancasila, dan toleransi akan heterogensi masyarakatnya sendiri.
Dengan demikian, penyelenggaraan Miss World di Indonesia pada tahun 2013 sekarang ini perlu dicermati tipologi negara kita apakah sebagai negara yang berasaskan Islam fundamen, sekuler, atau moderat? Apabila negara kita adalah negara Islam yang tradisionalis atau fundamentalis, maka segala regulasi kehidupan masyarakat Indonesia beserta pemerintahannya mengimplementasikan ajaran Islam tradisional sebagai konstitusi negara, sehingga pelaksanaan Miss World 2013 di Indonesia boleh ditolak kehadirannya karena tidak sesuai dengan konstitusi ajaran Islam yang dianut oleh negara Indonesia. Namun, jika negara kita merupakan katagori negara sekuler yang memisahkan antara agama dengan negara karena sistem kehidupan negara tidak ada kaitannya dengan regulasi ajaran agama Islam, maka pelaksanaan Miss World 2013 di Indonesia tidak dapat ditolak kehadirannya. Akan tetapi, jika negara Indonesia berada dikatagori negara yang moderat, yakni negara yang mampu beradabtasi dengan kemajuan zaman tanpa menghilangkan karakter kearifan lokal bangsa Indonesia atau mampu memelihara nilai-nilai keluhuran bangsa Indonesia di tengah kehidupan modernisasi zaman, sehingga nilai-nilai agama, budaya, ataupun kearifan lokal tetap tumbuh subur di dalam kehidupan masyarakat Indonesia, maka pelaksanaan Miss World 2013 dapat dilaksanakan di Indonesia dan diterima kehadirannya sebagai tamu yang berkunjung ke Indonesia yang harus kita hormati, hargai, dan dilindungi akan keselamatannya sebagai wujud toleransi kita pada mereka. Bukankah pihak penyelenggara Miss World 2013 telah menghargai keputusan kita untuk tidak ada sesi menggunakan pakaian renang (bikini), tetapi diganti dengan pakaian yang dikombinasi dengan sarung batik bali.
Ibarat ada seorang tamu dengan berpakaian yang tidak sesuai dengan karakter kita telah berkunjung ke rumah kita, apakah kita harus mengusirnya dengan semena-mena hanya karena mereka berpakaian yang tidak sesuai dengan karakter kita? Padahal mereka berkunjung ke rumah kita dengan cara dan niat yang baik, yakni menjalin silaturahim dan mempererat tali persaudaraan agar tidak terjadi permusuhan dunia. Hal ini sebagai upaya untuk berpartisipasi dalam perdamaian dunia dengan cara menerima mereka dengan sikap yang toleran dan santun. Seharusnya kita menampilkan karakter bangsa Indonesia yang sesungguhnya kepada dunia, yakni masyarakat yang ramah, santun, toleran, dan tak pandang bulu dalam bergaul.

POTRET PENGABDIAN BU EEN SUKAISI



POTRET PENGABDIAN BU EEN SUKAISI TERHADAP PENDIDIKAN DI TENGAH ARUS PRAGMATISASI PENDIDIKAN

“ Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Guru ibarat bulan purnama yang telah menyinari dunia ini dari kegelapan. Guru tak pernah mengenal kata lelah untuk mengamalkan ilmunya dalam membebaskan generasi muda bangsa dari kebodohan. Guru yang selalu mengajari anak-anak didiknya tentang kehidupan. Uluran tangan guru ibarat berlian yang selalu menyilaukan mata yang memandang “.
Kata-kata mutiara di atas sangatlah tepat untuk ditujukan kepada bu Een sukaisi “Sang Inspirator dari Sumedang“. Mungkin sangatlah sulit mencari sosok guru seperti bu  Een di negeri ini, ibarat mencari jarum di dasar lautan. Bu Een sukesi adalah manusia biasa yang sama seperti guru-guru pada umumnya, yakni sama-sama memiliki unsur-unsur intelektualitas, pedagogik, dan unsur-unsur lain yang diperlukan oleh seorang guru. Namun, beliau memiliki nilai plus yang jarang dimiliki oleh guru di Indonesia, yakni nilai pengabdian yang militan dan ketulusan dalam mencerdaskan generasi-generasi bangsa tanpa pamrih. Beliau seperti rumput ilalang yang disulap menjadi berlian. Melihat fenomena yang terlukiskan di lembaran-lembaran sejarah peradaban bangsa Indonesia yang mengindikasikan adanya krisis figur seorang guru teladan bagi peserta didiknya, maka kehadiran bu Een sukesi telah menjadi oase di tengah padang pasir yang tandus. Pengejawantahan bu Een sukesi telah menepis segala fenomena paradigmatik masyarakat tentang kepribadian guru di Indonesia.
Bu een adalah manusia biasa yang diberi oleh Allah swt., sebuah anugrah yang luar biasa, yakni kedayaan atau kekuatan fisik maupun psikis dalam membantu murid-muridnya untuk mengajari tentang segala macam ilmu pengetahuan, meskipun beliau dalam kondisi fisik yang lumpuh total hingga tak berdaya untuk menggerakkan seluruh anggota badannya, hanya bisa berbicara dengan lancar. Beliau memiliki semangat juang yang sangat tinggi untuk mencerdaskan anak-anak bangsa yang memiliki cita-cita dan masa depan yang cerah. Apa yang dilakukan oleh bu Een hanyalah semata-mata sebagai bentuk pengabdian beliau terhadap pendidikan di negeri ini, meskipun beliau tidak mendapatkan materi seperti layaknya guru pada umumnya yang selalu mendapatkan tunjangan keprofesian dan gaji. Sungguh beliau merupakan guru teladan yang dapat dijadikan inspirasi bagi guru-guru di Indonesia.
Dewasa ini, banyak guru di negeri ini yang tidak murni menggeluti dunia pendidikan sebagai suatu proses pengabdian diri terhadap negara, tetapi dijadikan sebagai media untuk mencari penghidupan yang selayak-layaknya. Banyak sekali upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan serta kemakmuran guru sebagai pahlawan dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti adanya sertifikasi guru, memberikan tunjangan keprofesian, gaji yang dinaikkan, memberikan kesempatan untuk mengikuti tes PNS, dan lain-lain. Adanya fenomena seperti itu telah mengakibatkan guru-guru di Indonesia tidak fokus dalam melaksanakan substansi dari pendidikan, yakni tidak hanya sekedar mentransforkan ilmu pengetahuan tertentu saja, tetapi juga mendidik, membimbing, mengarahkan, serta mengajarkan nilai-nilai kebaikan terhadap peserta didik secara professional. Selain itu, taraf pengabdian di dalam sanubari mereka mengalami degradasi akut. Apa  yang mereka lakukan di dalam dunia pendidikan juga mengubah paradigma  mereka yang merlabuh pada paradigma  pragmatis dan materialitis.
Sebenarnya tidak salah ketika guru-guru di Indonesia menuntut atau berupaya untuk mendapatkan penghidupan yang layak menuju suatu kesejahteraan atau kemakmuran hidup mereka dengan berbagai macam cara apapun. Hal itu menjadi hak dari mereka sebagai bentuk terima kasih negara terhadap guru-guru di Indonesia karena ikut serta dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Akan tetapi, apa yang dikejar oleh mereka tidak melunturkan nilai-nilai profesionalisme dan pengabdian mereka terhadap pendidikan di negeri ini. Namun, realita yang terjadi tidak relevan dengan teoritik keilmuan. Banyak guru yang menuntut haknya tetapi melalaikan kewajibannya sebagai pendidik generasi muda. Guru seyogiyanya mampu menjadi suri tauladan bagi peserta didiknya, baik dalam hal akhlaqnya maupun intelektualnya. Apa yang tercover di dalam diri para guru merupakan upaya motivasi ekstern untuk generasi muda agar selalu termotivasi untuk meningkatkan semangat belajar dalam mencapai cita-cita dan masa depannya demi kemakmuran bangsa Indonesia.
Inilah potret perbandingan antara bu Een sukesi dengan guru-guru di Indonesia meskipun tidak semuanya yang berorientasi pada pragmatisasi atau materialisasi bukan pada nilai profesionalisme dan pengabdian yang luhur terhadap pendidikan di Indonesia di tengah dunia globalisasi. Bu een sukesi merupakan salah satu contohdari sedikit orang yang ditinggikan oleh Allah swt., derajatnya karena ilmunya yang bermanfaat untuk semuanya serta didukung oleh niatnya yang tulus dalam mengabdikan hidupnya untuk menolong sesamanya dalam kebaikan. Allah swt., telah memberikan pesan tertulis kepada umatnya di dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11 yang artinya
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa hanya orang-orang yang beriman dan berilmu menjadi satu kesatuan secara utuh yang akan ditinggikan derajatnya oleh Allah swt., untuk manusia di muka bumi ini karena mereka mengamalkan ilmunya, baik untuk dirinya sendiri, masyarakat, bangsa dan negara. Hal itu telah terjadi pada bu Een sukesi yang telah diberikan oleh Allah swt., berupa anugrah yang tak ternilai harganya atas segala pengabdian beliau terhadap bangsa ini.  Anugrah tersebut ialah beliau mendapatkan hadiah  dari SCTV berupa menjalankan kewajiban umat Islam yang terakhir, yakni berangkat haji yang diterima oleh beliau saat diwawancarai oleh SCTV bersama bapak presiden RI , yakni Susilo Bambang Yudoyono dan Ibu negara, yakni Ani Yudoyono di istana kepresidenan RI. Selain itu, bu Een juga mendapatkan penghargaan dari ajang bergengsi, yakni Liputan 6 Awards dengan katagori Inspirator, serta murid-muridnya yang berprestasi tetapi tidak mampu dalam hal ekonomi akan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi negeri yang dibiayai oleh negara, dan masih banyak lagi anugrah yang beliau terima sebagai hasil dari jerih payah pengabdiannya.
Seharusnya para guru di Indonesia mulai detik ini juga harus membuka mata hati, telinga, dan pikiran mereka tentang substansi pendidikan, profesionalisme guru, serta nilai pengabdian yang tak bisa diukur dengan materi atau finansial. Guru sebagai inspirator, motivator, orator bagi generasi muda agar mereka menjadi pemuda yang mampu mewujudkan pembangunan nasional secara komprehensif dan evolutif. Apa yang kita lakukan tidak selamanya dapat di ukur dengan materi karena sejatinya tujuan substansi hidup ini bukanlah mengejar sebuah materi tetapi yang harus kita raih ialah nilai pengabdian yang paling berharga daripada berlian yang paling mahal sekalipun. Cermatilah kata-kata mutiara ini : “ Guru yang biasa ialah guru yang berbicara, guru yang bagus ialah guru yang mengajar, guru yang hebat ialah guru yang mampu mendemonstrasikan, tetapi guru yang agung ialah guru yang mampu menjadi inspirator bagi peserta didiknya “. Pengabdian tidak akan pernah luntur meskipun kondisi fisik tidak memungkinkan untuk digerakkan asalkan nafas kita masih ada dan jantung kita masih berdetak secara stabil. Nilai perjuangan dan pengabdianlah yang tulus akan mengantarkan kita pada kebahagian yang hakiki, yakni dunia dan akhirat. Belajarlah dari bu Een sukesi!




























BIODATA PENULIS

Nama                                       : Rosya Megawati
Tempat, Tanggal Lahir            : Surabaya, 10 Agustus 1990
Alamat                                                : Jl. Brigjen Katamso II, Waru, Kabupaten Sidoarjo (UNSURI)
Semester                                  : VIII
Prodi/Fakultas                         : Pendidikan Agama Islam ( PAI ) Fak. Agama Islam ( FAI )
Nama Universitas                    : Universitas Sunan Giri Surabaya, Waru Sidoarjo
No. Hp                                                : 083849430324/ 085330536035
Alamat Email                          : rosya_mega@yahoo.com
Alamat Facebook                    : Rosya Mawa
Alamat Twitter                        : @mega_rosya
Pengalaman Organisasi           : Aktivis PMII SIDOARJO





TRANSFORMASI ESENSIALITAS NILAI ISRA’ MI’RAJ DALAM DUNIA PERGERAKAN



TRANSFORMASI ESENSIALITAS  NILAI  ISRA’ MI’RAJ DALAM  DUNIA PERGERAKAN
Oleh : Rosya Megawati
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya[847] agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. ( QS. AL-ISRAA’: 1)

Ayat  tersebut  merupakan  lukisan  dari  sebuah  peristiwa  yang  mahadahsyat  sepanjang  sejarah  peradaban  manusia  sehingga  tidak  ada  satu  pun  yang  bisa  menandinginya.  Peristiwa  malam  itu  ialah  Isra’Mi’raj  yang  dilakukan  oleh  Rasulullah  saw.,  bersama  sahabat  dekatnya, yakni  Abu Bakar  Ashshiddiq dengan mengendarai  buroq , yakni  kendaraan  super  cepat  dari  yang  paling  cepat  kendaraan  yang  dibuat  oleh  manusia.  Rasulullah saw., yang  ditemani  dengan  sayyidinah  Abu bakar  Ashshiddiq bersamaan  dengan  malaikat  jibril  melakukan  sebuah  perjalanan  mulai  dari  masjidil  Haram  menuju  masjidil  Aqsha ( Isra’ ) dengan  dilanjutkan  perjalanan  berikutnya,  yakni  dari  masjidil  Aqsha  menuju  Shidrotul Muntaha ( langit  ketujuh ) yang  dinamakan  dengan  peristiwa  mi’raj.
Peristiwa  di atas  dinamakan  dengan  Isra’ Mi’raj yang  jatuh  pada  tanggal  27  Rajab  tahun 621 M (  Jawa pos, 6 Juni  2013 ). Isra’ Mi’raj  merupakan  peringatan  hari  besar  umat  Islam  sedunia  yang bertepatan  pada  tanggal  6 Juni  2013/1434 H.  Isra’ Mi’raj  sebagai  suatu  momentum  luar  biasa  yang  tidak  mungkin  bisa  dijangkau  oleh  nalar  pikiran  manusia . Hal  itu  merupakan  salah  satu  contoh  kebesaran  Allah  swt.,.  Manusia  sebagai  makhluq  Allah  swt.,  yang  diberi  sebuah  keistimewaan  oleh-Nya,  yakni  berupa  akal  pikiran,  maka  seyogiyanya  merea  berpikir  tentang  segala  kekuasaan  dan  kebesaran  ALLAH  swt.,  pemilik  jagat  raya  beserta  isinya  ini.
Isra’ Mi’raj tidak  hanya  menjadi  peristiwa  penting  bagi  umat  Islam  sekaligus  peradaban  dunia  ini  yang  hanya  diperingati  sebatas  seremon ial  saja.  Akan  tetapi,  Isra’ Mi’raj adalah  suatu  sejarah  kehidupan  dunia  yang  murni  bersumber  dari  Allah  swt.,  sehingga  di  dalamnya  mengandung  nilai-nilai  luhur  yang  harus  diaktualisasikan  oleh  manusia  dalam  kehidupan  sehari-harinya,  khususnya  warga  Pergerakan  Mahasiswa  Islam  Indonesia (PMII).  Isra’ Mi’raj  merupakan  momentum  yang  sangat  tepat  sebagai  media  perenungan  untuk  mengevaluasi  segala  proyeksi  gerakan  PMII  selama  ini  yang  semakin  hari  mengalami  degradasi  akut,  baik  secara  individu  kader  maupun  organisasi.
PMII  sebagai  organisasi  yang  bernafaskan  Islam  Ahlussunah  Wal jama’ah  yang  diintegrasikan  dengan  nilai-nilai  kebangsaan,  intelektual,  progresivitas  hadir  menjadi  media  untuk  membangkitkan  kembali  peradaban    Islam  serta  bangsa   dengan  cara  mentransformasikan  nilai-nilai  luhur  Islam  dan  pancasila  di  tengah  era  globalisasi.  PMII  sebagai  cover  pergerakan  generasi  muda  Islam  yang  berjiwa  nasionalis, patriotis,  Aswaja,  serta  intelektual  seyogiyanya  dipahami  secara  kontekstual-filosofis-terapan, sehingga  mampu  terproliferasi  ke  dalam  pikiran,  jiwa,  dan  tindakan  mereka. Dengan demikian, kita sebagai  kader  PMII  memahami  peringatan  Isra’Mi’raj  secara  komprehensif,  progresif, dan  esensi, sehingga  dapat  diketahui  dan  dipahami  nilai-nilai  yang  harus  ditransformasikan  ke  dalam  dunia  pergerakan  sebagai  upaya  untuk  revitalisasi  gerakan  mahasiswa  PMII  di  tengah-tengah  arus  modernisasi  yang  syarat  akan  pengembangan  ilmu  pengetahuan  dan  teknologi,  serta  timbulnya  ideologi-ideologi  Islam  lainnya  yang  telah  menyimpang  dari  konsep  ASWAJA.
Adapun  nilai-nilai  yang  harus  diinternalisasikan  ke  dalam  pergerakan  PMII  ialah  sebagai  berikut:
1.      Nilai  perjuangan  yang  tak  pernah  berhenti  atau  perjuangan  secara  totalitas  dan  massif  dalam  menegakkan  kebenaran dan  keadilan  di  negeri  ini  untuk  membebaskan  masyarakat  dari  problematika  sosial.
2.      Nilai  peradaban  yang  madani  sebagai  tujuan  utama  dunia  pergerakan  PMII  dalam  merumuskan  kredo-kredo gerakan  yang  berperadaban  madani,  sehingga  kita  tidak  terjebak  pada  sebuah  isu  public  maupun  konspirasi  media  yang  telah  memperbudak  kita  sebagai  keledai  intelektual.
3.      Nilai  kesadaran  kritis-substantif  bahwa  PMII  adalah  organisasi  kader  bukan  organisasi  massa,  sehingga  PMII  tidak  hanya  bergerak  dalam  ranah  gerakan  eksternal  saja,  tetapi  juga  gerakan  internal  yang sangat  penting  sebagai  upaya  untuk  mendidik,  menumbuhkembangkan  potensi  diri  kader,  khususnya  pengurus, baik  tingkat  rayon,  komisariat,  cabang,  coordinator  cabang,  maupun  pengurus  besar  karena  mereka  sebagai  suri  tauladan  bagi  calon  anggota  atau  calon  kader  PMII.
4.      Nilai  Integritas  pergerakan  sebagai  upaya  untuk  menyolidkan  internal   kader-kader  PMII, baik  secara  pikiran,  jiwa,  maupun  gerakannya  agar  mampu  membendung  disintegrasi  yang  ditimbulkan  secara  emosional  pribadi  maupun  golongan.

Secara  garis  besar,  kaum  pergerakan  PMII   harus  mampu memahami  analisis  kawan-lawan,  sehingga  kita  mengetahui  siapa  kawan  kita  dan  siapa  lawan  kita.  Sebagaimana  yang  telah  disampaikan  oleh  Shbt. Aris  Karomi, ST, M.Pd.I., saat  memberikan  pencerahan  intelektual  dalam  acara  dialog  keagamaan  yang  diselenggarakan  oleh  PC. PMII  Sidoarjo  pada  tanggal  6  Juni  2013  dengan  tema  : “ Kiat-kiat Membentengi Faham  ASWAJA di Kalangan  Mahasiswa dari  Faham  Lain”  mengatakan  bahwa  kita  harus  mengetahui atau  mengenali  diri sendiri, mengenali  orang  lain,  mengenali  lingkungan. Dengan  cara  itu  kita  mampu  menyatukan  gerakan  Kader PMII  menuju  integritas  pergerakan.

“ SELAMA DARAH INI MASIH  MENGALIR DERAS, NADI BERDENYUT KENCANG,  NAFAS MASIH  TETAP  ADA, MAKA  SELAMA ITU  PULA  PERJUANGAN  TETAP  AKAN  SELALU  ADA  KARENA PERJUANGAN  ADA  JIKA  ADA  SEBUAH  PEREGERAKAN, DAN  PERGERAKAN  ADA  JIKA  ADA  SEBUAH  PENGABDIAN  YANG  TOTALITAS  DAN  TULUS 

                                                                                                  Siodoarjo, 7 Juni  2013