MENJAGA
BULAN RAMADHAN DENGAN HATI DAN PIKIRAN YANG SUCI DAN BERSIH
Oleh:
Rosya Megawati
Bulan Ramadhan
tak terasa telah memasuki bulan pertengahan. Suasana bulan penuh berkah akan
berakhir telah terasa. Bulan Ramadhan kali ini sungguh sangat berarti bagi
kehidupan bangsa dan negara Indonesia. Mengapa demikian? Bulan Ramadhan sangat
berarti bagi bangsa dan negara Indonesia karena bulan tersebut akan menjadi
harapan dan doa untuk lima tahun masa depan Indonesia lebih baik. Bulan
Ramadhan yang bertepatan dengan bulan Mei penanggalan masehi menjadi bulan
keputusan akhir terpilihnya kepala negara Indonesia sekaligus kepala
pemerintahan Republik Indonesia. Bulan
Ramadhan menjadi harapan masyarakat Indonesia atas pilihannya dalam pemilu 2019
bulan lalu sebagai pilihan terbaik untuk pemimpin baru negeri ini demi kemajuan
dan kebaikan masa depan bangsa dan negara Indonesia.
Komisi Pemilihan
Umum (KPU) pusat akan mengumumkan hasil rekapitulasi nasional pemilu pilpres
2019 pada tanggal 22 Mei 2019 yang bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan 1440 H,
dan tak disengaja bersamaan dengan hari Nuzulul Qur’an. Namun, KPU telah
mengumumkan hasil rekapitulasi pilpres 2019 pada hari Selasa dini hari yang
bertepatan pada tanggal 21 Mei 2019. Pengumumannya ternyata maju satu hari dari
jadwal yang direncanakan sebelumnya. KPU telah mengumumkan bahwa pasangan
capres-cawapres nomor urut 01, yakni Pak Jokowi dan K.H. Ma’ruf Amin sebagai
pemenang di pilpres 2019 tahun ini dengan perolehan persentase suara 55,50 %,
sedangkan rivalnya Pak Prabowo dan Sandiaga Uno memperoleh persentase 44,50%.
Setelah hasil rekapitulasi pemilu 2019 telah diumumkan dan telah mengetahui
pemenang di pilpres tahun ini, apakah semua pihak menerimanya secara lapang
dada, baik yang kalah maupun yang menang? Apakah situasi dan kondisi politik
republik ini mulai membaik dan stabil? Apakah hasil tersebut telah diterima
oleh semua kalangan masyarakat Indonesia dengan jiwa besar? Apakah pak Jokowi
bisa menang tanpa perlawanan di Mahkamah Konstitusi? Ternyata tidak demikian. Masih ada kalangan yang belum bisa menerima
kekalahan secara lapang dada, situasi dan kondisi politik negeri ini masih saja
memanas meskipun telah mengetahui siapa yang menjadi pilihan rakyat Indonesia,
masih ada kalangan masyarakat Indonesia tertentu yang belum bisa menerima
keputusan hasil rekapitulasi pemilu 2019 oleh KPU dengan berjiwa besar, pihak yang kalah telah mengadukan sengketa
pemilu pilpres 2019 ke Mahkamah Konstitusi dikarenakan terindikasi adanya
berbagai kecurangan dalam pelaksanaan pemilu pilpres 2019 khususnya.
Ada beberapa
kelompok orang yang telah mendengung-dengungkan penolakan hasil rekapitulasi
pemilu pilpres 2019 oleh KPU dengan cara hendak menggerakkan people power . Banyak sekali berbagai
retorika yang mengandung unsur hasutan, provokasi yang begitu masif dilontarkan melalui berbagai media, baik
media cetak, media elektronik, maupun media sosial untuk mengajak semua
masyarakat Indonesia menolak keputusan KPU terkait hasil pemilu pilpres 2019
melalui people power. Agitasi-agitasi
politik yang sangat berbahaya dan mengancam keutuhan fondasi persatuan bangsa
dan negara Indonesia ini sangatlah mengganggu kenyamanan, kedamaian, dan
keamanan hidup berbangsa dan bernegara di negeri ini. Apalagi saat ini bangsa
Indonesia telah menjalankan ibadah puasa Ramadhan, serta masih suasana bulan
Ramadhan yang seharusnya dimaknai sebagai bulan penyucian jiwa, pendidikan hati
dan pikiran, serta bulan untuk mengikis segala macam hawa nafsu agar menjadi
insan yang lebih baik ke depannya.
Kita sebagai
manusia yang memiliki akal pikiran dan hati sebagiknya mampu menjaga kesucian
dan kemurnian bulan Ramadhan dengan tindakan-tindakan yang santun, baik, benar,
dan sopan secara lisan, jemari, maupun prilaku. Bulan Ramadhan seharusnya
dijadikan momentum untuk mendidik hati dan pikiran agar bekerja secara baik dan
benar, serta membersihkan maupun menyucikannya dari berbagai noda-noda prilaku
buruk manusia. Kita harus menyadarkan diri kita bahwasannya masih berada pada
atmosfer puasa Ramadhan, sehingga diupayakan mampu menahan diri dari berbagai
amarah, ego yang arogan, perkataan buruk, sikap dan prilaku buruk, dan sentuhan
jari-jari yang menyesatkan dalam penggunaan media sosial. Jangan sampai kita
menjadi agen penyebar hoaks atau berita bohong, ujaran kebencian, hasutan, adu
domba, sikap makar, sikap kekanak-kanakan dalam berpolitik dan berdemokrasi,
atau sikap destruktif apapun yang tidak dibenarkan dalam ajaran agama mananpun,
serta tidak dibenarkan dalam nilai-nilai falsafah kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Negeri ini
merupakan negeri demokrasi dengan populasi masyarakat Islamnya terbanyak dan
terbesar di dunia. Oleh sebab itu, sepatutnya kita mampu menjaga kesucian bulan
Ramadhan sebagai bulan pembersihan hati dan pikiran, serta belajar untuk
menahan diri dari amara dan arogansi yang berlebihan pula. Negeri ini memang negeri demokrasi yang dalam
hal penyampaian pendapat telah diatur dan dilindungi oleh undang-undang. Sikap
ketidakterimaan hasil keputusan rekapitulasi pemilu pilpres 2019 atau menolak
keputusan KPU merupakan hal yang wajar di dalam proses kehidupan berdemokrasi
di Indonesia. M aka dari itu, penyampaian penolakan tersebut harus dengan tata
cara yang konstitusional, sopan dan santun, tertib dalam mengikuti mekanisme
penolakan hasil pemilu, serta menggunakan jalan dialogis atau
musyawarah-mufakat pada lembaga pemerintah yang menangani sengketa pemilu.
Bukan dengan cara jalanan, sikap anarkis, berbuat rusuh dan onar, brutal dan
merusak segala fasilitas umum maupun milik negara, mengganggu kenyamanan
masyarakat sekitar, menyebarkan keburukan bagi orang lain, maupun
menyengsarakan orang lain.
Untuk itu,
penulis menghimbau semua pihak untuk mengingatkan diri kita yang lupa bahwa
kita sedang berpuasa dan berada di bulan suci Ramadhan, serta hidup di negeri
demokrasi pancasila, yakni Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI), kita ini
saudara sebangsa dan setanah air, satu kandungan dari ibu pertiwi, negeri ini
dibangun oleh para founding father’s dan mother’s kita dengan kucuran darah dan
air mata, serta kita adalah bangsa yang mencintai persatuan dan perdamaian.
Mari kita sama-sama dengungkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa,
perdamaian bangsa, persaudaraan bangsa, serta bersama-sama mengikis hawa nafsu,
ego, politik identitas yang membabi buta, menghentikan ujaran kebencian, hoaks,
dan provokasi melalui media sosial demi keutuhan dan bersatuan bangsa Indonesia
tetap utuh dan damai. Selesaikanlah segala macam berbedaan melaui jalan
rekonsiliasi, dialogis, dan musyawarah mufakat yang konstitusional agar
mencapai hasil yang jujur dan adil demi masa depan Indonesia lebih baik. Amiin.
Mojokerto,
22 Mei 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar