Kamis, 06 Juni 2019

REFLEKSI BULAN RAMADHAN DAN HARI REFORMASI


MENJAGA BULAN RAMADHAN DENGAN HATI DAN PIKIRAN YANG SUCI DAN BERSIH
Oleh: Rosya Megawati

Bulan Ramadhan tak terasa telah memasuki bulan pertengahan. Suasana bulan penuh berkah akan berakhir telah terasa. Bulan Ramadhan kali ini sungguh sangat berarti bagi kehidupan bangsa dan negara Indonesia. Mengapa demikian? Bulan Ramadhan sangat berarti bagi bangsa dan negara Indonesia karena bulan tersebut akan menjadi harapan dan doa untuk lima tahun masa depan Indonesia lebih baik. Bulan Ramadhan yang bertepatan dengan bulan Mei penanggalan masehi menjadi bulan keputusan akhir terpilihnya kepala negara Indonesia sekaligus kepala pemerintahan Republik Indonesia.  Bulan Ramadhan menjadi harapan masyarakat Indonesia atas pilihannya dalam pemilu 2019 bulan lalu sebagai pilihan terbaik untuk pemimpin baru negeri ini demi kemajuan dan kebaikan masa depan bangsa dan negara Indonesia.
Komisi Pemilihan Umum (KPU) pusat akan mengumumkan hasil rekapitulasi nasional pemilu pilpres 2019 pada tanggal 22 Mei 2019 yang bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan 1440 H, dan tak disengaja bersamaan dengan hari Nuzulul Qur’an. Namun, KPU telah mengumumkan hasil rekapitulasi pilpres 2019 pada hari Selasa dini hari yang bertepatan pada tanggal 21 Mei 2019. Pengumumannya ternyata maju satu hari dari jadwal yang direncanakan sebelumnya. KPU telah mengumumkan bahwa pasangan capres-cawapres nomor urut 01, yakni Pak Jokowi dan K.H. Ma’ruf Amin sebagai pemenang di pilpres 2019 tahun ini dengan perolehan persentase suara 55,50 %, sedangkan rivalnya Pak Prabowo dan Sandiaga Uno memperoleh persentase 44,50%. Setelah hasil rekapitulasi pemilu 2019 telah diumumkan dan telah mengetahui pemenang di pilpres tahun ini, apakah semua pihak menerimanya secara lapang dada, baik yang kalah maupun yang menang? Apakah situasi dan kondisi politik republik ini mulai membaik dan stabil? Apakah hasil tersebut telah diterima oleh semua kalangan masyarakat Indonesia dengan jiwa besar? Apakah pak Jokowi bisa menang tanpa perlawanan di Mahkamah Konstitusi? Ternyata tidak demikian.  Masih ada kalangan yang belum bisa menerima kekalahan secara lapang dada, situasi dan kondisi politik negeri ini masih saja memanas meskipun telah mengetahui siapa yang menjadi pilihan rakyat Indonesia, masih ada kalangan masyarakat Indonesia tertentu yang belum bisa menerima keputusan hasil rekapitulasi pemilu 2019 oleh KPU dengan berjiwa besar,  pihak yang kalah telah mengadukan sengketa pemilu pilpres 2019 ke Mahkamah Konstitusi dikarenakan terindikasi adanya berbagai kecurangan dalam pelaksanaan pemilu pilpres 2019 khususnya.
Ada beberapa kelompok orang yang telah mendengung-dengungkan penolakan hasil rekapitulasi pemilu pilpres 2019 oleh KPU dengan cara hendak menggerakkan people power . Banyak sekali berbagai retorika yang mengandung unsur hasutan, provokasi yang begitu masif  dilontarkan melalui berbagai media, baik media cetak, media elektronik, maupun media sosial untuk mengajak semua masyarakat Indonesia menolak keputusan KPU terkait hasil pemilu pilpres 2019 melalui people power. Agitasi-agitasi politik yang sangat berbahaya dan mengancam keutuhan fondasi persatuan bangsa dan negara Indonesia ini sangatlah mengganggu kenyamanan, kedamaian, dan keamanan hidup berbangsa dan bernegara di negeri ini. Apalagi saat ini bangsa Indonesia telah menjalankan ibadah puasa Ramadhan, serta masih suasana bulan Ramadhan yang seharusnya dimaknai sebagai bulan penyucian jiwa, pendidikan hati dan pikiran, serta bulan untuk mengikis segala macam hawa nafsu agar menjadi insan yang lebih baik ke depannya.
Kita sebagai manusia yang memiliki akal pikiran dan hati sebagiknya mampu menjaga kesucian dan kemurnian bulan Ramadhan dengan tindakan-tindakan yang santun, baik, benar, dan sopan secara lisan, jemari, maupun prilaku. Bulan Ramadhan seharusnya dijadikan momentum untuk mendidik hati dan pikiran agar bekerja secara baik dan benar, serta membersihkan maupun menyucikannya dari berbagai noda-noda prilaku buruk manusia. Kita harus menyadarkan diri kita bahwasannya masih berada pada atmosfer puasa Ramadhan, sehingga diupayakan mampu menahan diri dari berbagai amarah, ego yang arogan, perkataan buruk, sikap dan prilaku buruk, dan sentuhan jari-jari yang menyesatkan dalam penggunaan media sosial. Jangan sampai kita menjadi agen penyebar hoaks atau berita bohong, ujaran kebencian, hasutan, adu domba, sikap makar, sikap kekanak-kanakan dalam berpolitik dan berdemokrasi, atau sikap destruktif apapun yang tidak dibenarkan dalam ajaran agama mananpun, serta tidak dibenarkan dalam nilai-nilai falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara.
Negeri ini merupakan negeri demokrasi dengan populasi masyarakat Islamnya terbanyak dan terbesar di dunia. Oleh sebab itu, sepatutnya kita mampu menjaga kesucian bulan Ramadhan sebagai bulan pembersihan hati dan pikiran, serta belajar untuk menahan diri dari amara dan arogansi yang berlebihan pula.  Negeri ini memang negeri demokrasi yang dalam hal penyampaian pendapat telah diatur dan dilindungi oleh undang-undang. Sikap ketidakterimaan hasil keputusan rekapitulasi pemilu pilpres 2019 atau menolak keputusan KPU merupakan hal yang wajar di dalam proses kehidupan berdemokrasi di Indonesia. M aka dari itu, penyampaian penolakan tersebut harus dengan tata cara yang konstitusional, sopan dan santun, tertib dalam mengikuti mekanisme penolakan hasil pemilu, serta menggunakan jalan dialogis atau musyawarah-mufakat pada lembaga pemerintah yang menangani sengketa pemilu. Bukan dengan cara jalanan, sikap anarkis, berbuat rusuh dan onar, brutal dan merusak segala fasilitas umum maupun milik negara, mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar, menyebarkan keburukan bagi orang lain, maupun menyengsarakan orang lain.
Untuk itu, penulis menghimbau semua pihak untuk mengingatkan diri kita yang lupa bahwa kita sedang berpuasa dan berada di bulan suci Ramadhan, serta hidup di negeri demokrasi pancasila, yakni Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI), kita ini saudara sebangsa dan setanah air, satu kandungan dari ibu pertiwi, negeri ini dibangun oleh para founding father’s dan mother’s kita dengan kucuran darah dan air mata, serta kita adalah bangsa yang mencintai persatuan dan perdamaian. Mari kita sama-sama dengungkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa, perdamaian bangsa, persaudaraan bangsa, serta bersama-sama mengikis hawa nafsu, ego, politik identitas yang membabi buta, menghentikan ujaran kebencian, hoaks, dan provokasi melalui media sosial demi keutuhan dan bersatuan bangsa Indonesia tetap utuh dan damai. Selesaikanlah segala macam berbedaan melaui jalan rekonsiliasi, dialogis, dan musyawarah mufakat yang konstitusional agar mencapai hasil yang jujur dan adil demi masa depan Indonesia lebih baik. Amiin.

Mojokerto, 22 Mei 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar