ONANI DEMOKRASI
Oleh: Rosya Megawati
Onani
demokrasi yang terjadi
Tanah
airku tak sesubur lagi
Pilar
demokrasi mulai runtuh lagi
Tali
bhinneka kembali tercerai-berai
Pancasila
ternodai dengan watak kapitalisme kaum elit
Hak
kami dirampas, dikebiri, dijajah
Negeri
ini katanya sudah merdeka
Tapi,
hak kami masih terjajah oleh pikiran kapitalis kaum elit
Wahai,
pemimpinku
Lupakah
kau akan janji manismu yang kau lontarkan pada kami
Tak
ingatkah kau akan janji profesimu di hadapan kitab suci
Tak
takutkah kau pada Tuhan yang jadi saksi akan sumpah jabatanmu
Wahai
penguasa negeriku,
Apa
yang kau inginkan dari kami yang papa
Hidup
dalam bayang-bayang arogansi dunia
Kau
tambah penderitaan kami dengan aturan yang menjajah
Lupakah
kau bahwa kami bukan sampah yang harus dibuang
Kami
yang hidup di bawah kolong langit
Kami
yang hidup di jalanan
Kami
yang hidup tanpa rumah dan harta benda
Kami
hidup di bawah penderitaan yang menjadi-jadi
Kau
tambah penderitaan kami dengan aturanmu
Kami
yang tak pernah merasakan lezatnya nasi dan susu
Justru
kau jadikan ladang memperkaya negara
Bukankah
kami ini tanggung jawab negara untuk disejahterakan
Bukankah
ini tugasmu untuk melayakkan hidup kami
Menyelamatkan
hak kami untuk merasakan hidup sejahtera
Merasakan
hidup makmur di negeri sendiri
Tapi,
tidak sekali lagi tidak
Kami
teronani oleh tangan besimu
Demokrasi
negeriku kau rusak dengan pikiran arogan elitmu
Lagi-lagi
pilar demokrasi kau robohkan dengan tangan kapitalismu
Demokrasi
negeri ini kau onani
Simbol
keadilan negeri ini kau rusak dengan tangan politik kotormu
Kau
anggap suara kami seperti tong kosong tak berisi
Suara
kebenaran kami kau anggap seperti angin lalu
Kau
anggap aksi turun jalan kami sia-sia
Tak
sesuai dengan kondisi yang ada
Tapi,
bagi kami aksi itu adalah perjuangan
Pengorbanan
dan perjuangan kami menegakkan keadilan di negeri ini
Aksi
kami adalah tanda pengingat para wakil kami yang lupa diri
Aksi
kami ialah perjuangan kami melawan oligarki koloni
Aksi
kami mengingatkan kaum elit politik yang mempermainkan hidup kami
Mereka
mempermainkan nasib kami atas dengan mengatasnamakan undang-undang
Wahai
elit politik negeri ini
Jangan
nodai negeri demokrasi dengan aturan koloni
Jangan
kebiri demokrasi dengan akal bulusmu dengan mengatasnamakan perbaikan
Jangan
kau robohkan pilar-pilar demokrasi dengan tangan besimu
Ini
negeri demokrasi
Tetaplah
seperti itu
Ini
negeri Pancasila
Lihatlah,
pahami, dan laksanakan amanah yang kau emban... wahai pemimpinku
Mojokerto
Dalam ruang kontemplasiku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar