Jumat, 28 Februari 2014

pemimpin teladan



MERINDUKAN PEMIMPIN BANGSA YANG TELADAN
Oleh:Rosya Megawati
Aktivis PMII UNSURI
No. Telp: 083849430324

Perjalanan bangsa Indonesia hingga sampai pada abad ke-21 sangatlah panjang serta penuh dengan tikungan-tikungan yang sangat rumit di atas pentas sejarah  peradaban bangsa ini. Hampir 68 tahun bangsa Indonesia telah menyatakan kemerdekaannya di hadapan rakyat Indonesia serta masyarakat internasional, baik secara defakto maupun dejure. Adanya kemerdekaan yang telah diterima oleh masyarakat Indonesia belum tentu dapat dirasakan secara utuh tentang nilai-nilai kemerdekaan serta perjuangan bukan berarti selesai saat itu juga. Masih banyak tugas penting yang harus diselesaikan oleh bangsa ini hingga tercapainya kesejahteraan dan kemakmuran yang hakiki. Apalagi di era sekarang mengalami suatu dilematis yang sangat kritis dan kompleks dengan hadirnya berbagai macam problematika kehidupan yang belum terselesaikan secara komprehensif.
Founding father and mother kita mendirikan serta membangun bangsa ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi memerlukan tetesan darah perjuangan yang sangat kuat untuk memperebutkan kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah. Apa yang kita dapatkan saat ini merupakan hasil jerih payah para founding father and mother bangsa ini yang harus tetap dirawat dan dijaga dengan baik. Hal itu merupakan upaya kita untuk menghargai hasil perjuangan para bunga bangsa serta melanjutkan estafet perjuangan mereka dengan nilai-nilai militan yang perenialis. Sungguh suatu perjuangan serta pengabdian yang tak ternilai harganya untuk dipersembahkan bagi bangsa Indonesia seutuhnya.
Dewasa ini, bangsa Indonesia berada di ambang titik kehancuran yang masih belum terselamatkan oleh tangan-tangan emas karena lahirnya berbagai macam bentuk problematika di segala dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara, baik dari segi pendidikan, sosial, budaya, hukum, ekonomi, politik, agama, dan sebagainya. Kemerdekaan yang terpancar pada 68 tahun silam tak mampu dirasakan pancarannya sampai era golobalisasi sekarang ini. Banyak sekali anomali yang menghiasi perjalanan sejarah peradaban bangsa Indonesia ibarat kertas yang ditumpahi dengan cairan hitam atau jatuh pada kubangan lumpur. Mulai dari menyebarnya jaringan narkoba, terorisme yang hidup kembali, pergaulan bebas di kalangan remaja, korupsi dari pejabat rendahan hingga kelas kakap, kerusakan hutan sebagai jantung kota, kriminalisme semakin akut, hukum yang diperjualbelikan, demokrasi yang disalahgunakan, kemiskinan, pengangguran, kesenjangan sosial semakin meningkat, pengerdilan budaya lokal oleh budaya barat yang tidak beretika, hegemonisme kaum pemodal dan industri produk luar negeri yang semakin meluas, dan masih banyak lagi masalah yang lahir dari bangsa ini.
Fenomena anomali yang terjadi di dalam dimensi bangsa Indonesia telah mengindikasi bahwa krisisnya sosok pemimpin yang paripurna secara fitrahnya. Para pemimpin bangsa ini tidak mengcover dirinya sebagai wujud aktualisasi karakter bangsa yang bermartabat, sehingga mampu menjadi suri tauladan yang baik bagi para generasi muda. Padahal yang dikatakan seorang pemimpin sejati ialah ia mampu mengaktualisasikan serta memposisikan dirinya sebagai pelayan masyarakat atau rakyat Indonesia secara adil, bijaksana, peduli, dan peka terhadap masalah yang dialami oleh rakyatnya. Pemimpin sebagai stakeholder utama dan paling pertama dalam pembangunan bangsa ini agar mampu terciptanya peradaban bangsa yang bermartabat, baik secara kultural maupun struktural. Namun, jika pemimpin bangsa ini tidak memahami dan mengerti akan dirinya atau peran dan tugasnya sebagai pelayan masyarakat atau rakyatnya, maka bagaimana mungkin ia dapat mepresentasikan dirinya sebagai pemimpin yang teladan? Sudah terlalu sering bangsa ini meneteskan air mata darah yang diimbangi dengan  jiwa terguncang dan merintih kesakitan karena ulah para penguasa yang menjelma sebagai pemimpin bangsa yang tidak akuntabel, amanah, serta peka terhadap realita sosial. Maka dari itu, sudah dapat diasumsikan bahwa penyebab banyaknya kemungkaran di atas pentas peradaban bangsa ini ialah  ketidakpatuhan para pemimpin kita terhadap hukum-hukum yang telah ada, baik hukum alam, agama, masyarakat, maupun negara. 
Para pemimpin bangsa ini telah kehilangan arah atau pegangan dalam melaksanakan segala aktivitas kehidupannya, baik secara domestik maupun universal. Pergeseran pola pikir, pola prilaku, pola kalbu yang cenderung sekuler-materialistik dengan sarat akan kehidupan yang glamor, bourjuis, dan hedonis telah jauh dari karakteristik pemimpin paripurna sebagai pelayan atau pengabdi negara maupun rakyat.  Ketidaksesuaian antara ucapan dan pengalaman atau tindakan di dalam realitas kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi indikator dari pemimpin yang tak layak untuk menahkodai kapal sistem pemerintahan negara Indonesia. Dengan demikian, bangsa ini agar terselamatkan dari jurang ketidakberdayaan sebagai bangsa yang bermartabat ialah dengan cara mengaktualisasikan atau mepresentasikan sesosok pemimpin yang teladan. Artinya, pemimpin yang teladanlah yang dapat memberikan pencerahan serta secerca harapan di masa depan dengan semangat optimis, totalitas, loyalitas, dedikasi, kepekaan, kedermawanan, kecerdasan, ketegasan, kedisiplinan, dan etos kerja yang sangat kuat untuk mewujudkan Indonesia maju, mandiri, bermartabat, dan berkarakter. Pemimpin bangsa seyogiyanya merefleksikan sekaligus merevitalisasikan pola pikirnya terhadap segala sesuatu yang relevan dengan norma-norma agama, budaya, sosial, sserta bangsa Indonesia. Hal ini telah dicontohkan oleh para founding father and mother bangsa Indonesia yang telah menggoreskan tinta emas di atas lembaran peradaban bangsa maupun dunia seperti mahapatih Gajah Mada dengan Sumpah Palapanya  yang mengandung makna bahwa beliau akan selalu bertirakat (puasa) jikalau tidak terwujudnya persatuan nusantara di dalam kerajaan Majapahit. Hal itu dapat ditarik kesimpulan bahwa sejatinya seorang pemimpin ialah  ia mau rela berkorban meskipun nyawa taruhannya, asalkan negerinya aman, tentram, dan rakyatnya makmur, sehingga sangat jarang memikirkan kepentingan pribadi maupun golongan atau komunitasnya.
Pemimpin bangsa sekarang ini yang sebenarnya secara hakikat mereka tak pantas mereka memperoleh gelar mahkota pemimpin atau seluruh fasilitas yang bersumber dari tenaga, keringat, tetesan air mata rakyatnya untuk segara menyadarkan dirinya dari obat (harta, tahta, dan wanita) yang membiusnya hingga tak sadarkan diri serta mematikan seluruh inderawinya. Janganlah bermain-main dengan segala sesuatu yang mengatasnamakan amanah, kepentingan rakyat, kebenaran, keadilan di atas kepentingan pribadi,  golongan, kebohongan, dan ketidakadilan karena sejatinya negara bukanlah tempat untuk mencari sebuah penghidupan, tetapi negara merupakan tempat untuk mencari dan memperoleh nilai-nilai pengabdian di dalam kebaikan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar