MERINDUKAN
PEMIMPIN BANGSA YANG TELADAN
Oleh:Rosya Megawati
Aktivis PMII UNSURI
No. Telp:
083849430324
Perjalanan bangsa Indonesia hingga sampai pada abad ke-21
sangatlah panjang serta penuh dengan tikungan-tikungan yang sangat rumit di
atas pentas sejarah peradaban bangsa
ini. Hampir 68 tahun bangsa Indonesia telah menyatakan kemerdekaannya di
hadapan rakyat Indonesia serta masyarakat internasional, baik secara defakto
maupun dejure. Adanya kemerdekaan yang telah diterima oleh masyarakat Indonesia
belum tentu dapat dirasakan secara utuh tentang nilai-nilai kemerdekaan serta
perjuangan bukan berarti selesai saat itu juga. Masih banyak tugas penting yang
harus diselesaikan oleh bangsa ini hingga tercapainya kesejahteraan dan
kemakmuran yang hakiki. Apalagi di era sekarang mengalami suatu dilematis yang
sangat kritis dan kompleks dengan hadirnya berbagai macam problematika
kehidupan yang belum terselesaikan secara komprehensif.
Founding father and mother kita mendirikan serta
membangun bangsa ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi
memerlukan tetesan darah perjuangan yang sangat kuat untuk memperebutkan
kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah. Apa yang kita dapatkan saat ini
merupakan hasil jerih payah para founding father and mother bangsa ini yang
harus tetap dirawat dan dijaga dengan baik. Hal itu merupakan upaya kita untuk
menghargai hasil perjuangan para bunga bangsa serta melanjutkan estafet
perjuangan mereka dengan nilai-nilai militan yang perenialis. Sungguh suatu
perjuangan serta pengabdian yang tak ternilai harganya untuk dipersembahkan
bagi bangsa Indonesia seutuhnya.
Dewasa ini, bangsa Indonesia berada di ambang titik
kehancuran yang masih belum terselamatkan oleh tangan-tangan emas karena
lahirnya berbagai macam bentuk problematika di segala dimensi kehidupan
berbangsa dan bernegara, baik dari segi pendidikan, sosial, budaya, hukum,
ekonomi, politik, agama, dan sebagainya. Kemerdekaan yang terpancar pada 68
tahun silam tak mampu dirasakan pancarannya sampai era golobalisasi sekarang
ini. Banyak sekali anomali yang menghiasi perjalanan sejarah peradaban bangsa
Indonesia ibarat kertas yang ditumpahi dengan cairan hitam atau jatuh pada
kubangan lumpur. Mulai dari menyebarnya jaringan narkoba, terorisme yang hidup
kembali, pergaulan bebas di kalangan remaja, korupsi dari pejabat rendahan
hingga kelas kakap, kerusakan hutan sebagai jantung kota, kriminalisme semakin
akut, hukum yang diperjualbelikan, demokrasi yang disalahgunakan, kemiskinan,
pengangguran, kesenjangan sosial semakin meningkat, pengerdilan budaya lokal
oleh budaya barat yang tidak beretika, hegemonisme kaum pemodal dan industri
produk luar negeri yang semakin meluas, dan masih banyak lagi masalah yang
lahir dari bangsa ini.
Fenomena anomali yang terjadi di dalam dimensi bangsa
Indonesia telah mengindikasi bahwa krisisnya sosok pemimpin yang paripurna
secara fitrahnya. Para pemimpin bangsa ini tidak mengcover dirinya sebagai
wujud aktualisasi karakter bangsa yang bermartabat, sehingga mampu menjadi suri
tauladan yang baik bagi para generasi muda. Padahal yang dikatakan seorang
pemimpin sejati ialah ia mampu mengaktualisasikan serta memposisikan dirinya
sebagai pelayan masyarakat atau rakyat Indonesia secara adil, bijaksana,
peduli, dan peka terhadap masalah yang dialami oleh rakyatnya. Pemimpin sebagai
stakeholder utama dan paling pertama dalam pembangunan bangsa ini agar mampu
terciptanya peradaban bangsa yang bermartabat, baik secara kultural maupun
struktural. Namun, jika pemimpin bangsa ini tidak memahami dan mengerti akan
dirinya atau peran dan tugasnya sebagai pelayan masyarakat atau rakyatnya, maka
bagaimana mungkin ia dapat mepresentasikan dirinya sebagai pemimpin yang
teladan? Sudah terlalu sering bangsa ini meneteskan air mata darah yang
diimbangi dengan jiwa terguncang dan
merintih kesakitan karena ulah para penguasa yang menjelma sebagai pemimpin
bangsa yang tidak akuntabel, amanah, serta peka terhadap realita sosial. Maka
dari itu, sudah dapat diasumsikan bahwa penyebab banyaknya kemungkaran di atas
pentas peradaban bangsa ini ialah
ketidakpatuhan para pemimpin kita terhadap hukum-hukum yang telah ada,
baik hukum alam, agama, masyarakat, maupun negara.
Para pemimpin bangsa ini telah kehilangan arah atau
pegangan dalam melaksanakan segala aktivitas kehidupannya, baik secara domestik
maupun universal. Pergeseran pola pikir, pola prilaku, pola kalbu yang
cenderung sekuler-materialistik dengan sarat akan kehidupan yang glamor,
bourjuis, dan hedonis telah jauh dari karakteristik pemimpin paripurna sebagai
pelayan atau pengabdi negara maupun rakyat.
Ketidaksesuaian antara ucapan dan pengalaman atau tindakan di dalam
realitas kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi indikator dari pemimpin yang
tak layak untuk menahkodai kapal sistem pemerintahan negara Indonesia. Dengan
demikian, bangsa ini agar terselamatkan dari jurang ketidakberdayaan sebagai
bangsa yang bermartabat ialah dengan cara mengaktualisasikan atau
mepresentasikan sesosok pemimpin yang teladan. Artinya, pemimpin yang
teladanlah yang dapat memberikan pencerahan serta secerca harapan di masa depan
dengan semangat optimis, totalitas, loyalitas, dedikasi, kepekaan,
kedermawanan, kecerdasan, ketegasan, kedisiplinan, dan etos kerja yang sangat
kuat untuk mewujudkan Indonesia maju, mandiri, bermartabat, dan berkarakter.
Pemimpin bangsa seyogiyanya merefleksikan sekaligus merevitalisasikan pola
pikirnya terhadap segala sesuatu yang relevan dengan norma-norma agama, budaya,
sosial, sserta bangsa Indonesia. Hal ini telah dicontohkan oleh para founding
father and mother bangsa Indonesia yang telah menggoreskan tinta emas di atas
lembaran peradaban bangsa maupun dunia seperti mahapatih Gajah Mada dengan Sumpah
Palapanya yang mengandung makna
bahwa beliau akan selalu bertirakat (puasa) jikalau tidak terwujudnya persatuan
nusantara di dalam kerajaan Majapahit. Hal itu dapat ditarik kesimpulan bahwa
sejatinya seorang pemimpin ialah ia mau
rela berkorban meskipun nyawa taruhannya, asalkan negerinya aman, tentram, dan
rakyatnya makmur, sehingga sangat jarang memikirkan kepentingan pribadi maupun
golongan atau komunitasnya.
Pemimpin bangsa sekarang ini yang sebenarnya secara
hakikat mereka tak pantas mereka memperoleh gelar mahkota pemimpin atau seluruh
fasilitas yang bersumber dari tenaga, keringat, tetesan air mata rakyatnya
untuk segara menyadarkan dirinya dari obat (harta, tahta, dan wanita) yang
membiusnya hingga tak sadarkan diri serta mematikan seluruh inderawinya. Janganlah
bermain-main dengan segala sesuatu yang mengatasnamakan amanah, kepentingan
rakyat, kebenaran, keadilan di atas kepentingan pribadi, golongan, kebohongan, dan ketidakadilan
karena sejatinya negara bukanlah tempat untuk mencari sebuah penghidupan,
tetapi negara merupakan tempat untuk mencari dan memperoleh nilai-nilai
pengabdian di dalam kebaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar