TRANSFORMASI PERADABAN
POLITIK YANG HUMANIS DARI FILM UMAR BIN KHATTAB ( OMAR )
Oleh: Rosya Megawati
Kita lihat dialektika perpolitikan
di Indonesia telah mengalami degradasi yang sangat kritis dan jauh dari
nilai-nilai demokrasi pancasila. Politik telah menjadi bomerang bagi kehidupan
berbangsa dan bernegara yang tak terkendali. Selain itu, dunia politik mempresentasikan dirinya
sebagai lingkaranhitam yang lebih ganas daripada cakaran dinosaurus. Banyak
sekali masyarakat kita, khususnya kalangan cendikiawan yang idealis, mahasiswa
idealis, masyarakat akarrumput atau kaum proletar yang tak percaya lagi pada
politikus bangsa ini, khususnya yang bertengger di parlemen senayan.
Perpolitikan di Indonesia telah berada pada titik ambang kehancuran moral,
kearifan bangsa, dan sikap yang humanis-transendentif. Akankah potret
perpolitikan di Indonesia akan tampil dengan wajah seribu topeng pencitraan
musiman, khususnya pada tahun politik yakni 2013 ialah pemilihan gubernur dan
wakilnya di Jawa Timur dan 2014 ialah pemilihan presiden Republik Indonesia dan
wakilnya? Akankah topeng-topeng
pencitraan dengan manisnya tutur kata selalu menghiasi tayangan media
elektronik maupun massa di sepanjang peradaban bangsa ini, khususnya peradaban
politik dunia? Kapankah rakyat kita bersikap
selektif dan demokrasi dalam merespon segala fenomena perpolitikan di bumi
garuda ini?
Negeri kita terlalu banyak
dihegemoni oleh kaum opourtunis. Kebenaran akan substansi kehidupan yang
demokrasi telah dikontaminasi oleh konspirasi berantai yang elegan. Kebohongan
serta ketidakadilan telah bersembunyi di balik tabir kebenaran dan keadilan.
Nilai-nilai agama, budaya, sosial, serta kearifan bangsa tidak lagi menjadi fundamen
terapan dalam setiap aktivitas kehidupan secara universal. Hanya kepentingan
golongan, pribadi, kekuasaan, kepuasan diri, serta arogansi politik yang telah menjadi fundamen
pilar kehidupan berbangsa dan bernegara. Tanpa disadari atau tidak, mereka
telah menjadi budak sistem kapitalisme yang tak dapat terelakkan karena menjadi
bagian dari dinamika zaman yang harus dihadapi. Namun, mereka bersikap
dinamis-liberalis yang artinya bahwa mereka sangat mudah sekali dalam
menyesuaikan diri terhadap perkembangan zaman menuju sistem kapitalis secara
bebas tanpa batas. Padahal sebagai manusia yang berakal dan berbudi selayaknya
bersikap dinamis-statis. Artinya, masyarakat Indonesia mampu merespon segala
perkembangan zaman tetapi tidak mudah terhegemoni atau terdeterminasi oleh
arogansi sistem kapitalis.
Melihat suatu fenomena ibarat
fatamorgana kehidupan tetapi sangatlah nyata jika dipandang dengan kacamata
analisis-kritis, maka bangsa Indonesia perlu berguru pada dunia Islam karena
mampu menciptakan suatu peradaban yang modern di masa kejayaannya, serta banyak
sekali tokoh-tokoh negara yang bijak dan arif. Kearifan dan kebijaksanaan
inilah menjadi point penting dalam merekonstruksi peradaban bangsa ini menuju
peradaban yang paripurna dengan cara melahirkan tokoh-tokoh negara, termasuk
politikus yang adil, bijak,dan arif. Sebab, dengan karakteristik pemimpin yang
filsuf akan melahirkan masyarakat yang filsuf pula karena negara adalah
cerminan kehidupan masyarakat Indonesia secara universal. Namun, jika negara
ini dipimpin oleh para perompak, maka masyarakatnya pun akan ikutan menjadi
perompak atau pembajak yang tak humanis. Dengan demikian, sepatutnyalah bangsa
Indonesia mulai melek sejarah yang saat ini banyak ditayangkan di televisi
sebagai upaya untuk mengingatkan kepada kita kembali akan sejarah peradaban
dunia dan manusia yang telah mewarnai perjalanan kehidupan universal ini.
Seperti halnya, di bulan suci ramadhan telah di tayangkan film tentang historis
kehidupan Umar bin Khattab yang disiarkan langsung oleh stasiun televisi
swasta, yakni MNC TV setiap hari pada pukul 01.45 wib.
Film “ Umar Bin Khattab (Omar) “
telah mengajarkan kita tentang peradaban politik yang humanis dan
transendentif. Umar Bin Khattab adalah salah satu sahabat nabi Muhammad saw.,
yang ke-2 dari khulafaurrasyidin dengan kepribadiannya yang tegas dalam
menegakkan kebenaran Islam dan keadilan, santun, dermawan, disiplin, sosial, cerdas,
jujur, dan humanis. Siapa sangka seorang Umar bin Khattab yang dahulunya telah
membenci Islam, tetapi ketika sang adik membacakan ayat-ayat suci Al-qur’an
dengan lirih telah menyentuh hati sekeras
batu
seperti Umar, sehingga beliau langsung menemui Nabi saw., untuk menyatakan atau
berserah diri pada ajaran Allah swt. Bergabungnya Umar bin Khattab ke dalam
barisan pendukung Rasulullah saw., telah menberikan warna baru bagi perkembangan
ajaran Islam serta kekuatan di dalamnya. Umar yang mendapatkan julukan singa padang pasir telah menambah
kekuatan umat muslim untuk memerangi kemungkaran yang dilakukan oleh kaum kafir
quraisy. Artinya, Umar telah menjadi sosok yang gagah berani, tegas, tak takut,
saat menghunuskan pedangnya demi menegakkan panji-panji kebenaran Islam.
Umar bin Khattab juga termasuk
seorang pemimpin negara dan politikus yang santun. Beliau selalu melibatkan
para sahabat-sahabat Rasulullah saw., lainnya yang juga sahabatnya dalam
mengambil keputusan dalam urusan kemaslahatan umat atau kenegaraan. Beliau juga
seorang yang arif dan terbuka dalam menerima saran, kritik, maupun pengaduan
dari rakyat-rakyatnya. Contohnya, saat beliau hendak jalan-jalan di pasar
beliau melihat seorang wanita tua penjual susu telah menegur si penjual gandum
yang telah berbuat curang dengan cara mensabotase timbangan, sehingga barang
yang ditimbang tidak seberat ukuran timbangan. Inilah sosok pemimpin negara dan
politikus yang humanis. Artinya pemimpin yang memiliki sifat memanusiakan
manusia terhadap orang-orang disekitarnya tanpa adanya diskriminasi, meskipun
itu ialah rakyat jelata. Tidak mengebiri pendapat orang lain, menyikut
sahabatnya karena kepentingan tertentu, menjadikan rakyatnya sebagai
pundi-pundi suara kemenangan. Sungguh suatu fenomena yang sangat jauh berbeda
dengan pemimpin negara kita saat ini.
Beliau juga merupakan sosok
pemimpin yang merakyat, dermawan tanpa pamrih. Beliau selalu keliling ke
kampung-kampung untuk
membagikan selimut dan alas tidur untuk rakyat-rakyatnya di musim dingin. Selain itu, beliau rela
memikul sekarung gandum serta bahan pokok lainnya untuk seorang wanita yang
memasak batu untuk mengelabuhi anak-anaknya yang sedang menangis karena
kelaparan, serta beliau juga yang memasakkan bubur gandum untuk wanita itu dan anak-anaknya. Beliau
tidak memperkenalkan diri sebagai khalifah ketika ditanya si wanita itu,
sehingga wanita itu tanpa sadar mengatakan bahwa khalifah umar saja tak peduli
dengan kondisinya, tetapi seorang lali-laki yang berpakaian sederhana paruhbaya
ini sangat peduli dengan anak-anaknya dan dirinya. Inilah nilai kepedulian
sosial yang transendentif. Para pemimpin bangsa ini dan politikus janganlah
mengumbar usaha pencitraan dengan menelanjangi
sikap kepedulian sosial dengan mepresentasikan dirinya sebagai pemimpin
negara atau ketua partai atau calon yang akan menduduki kursi legislatif,
gubernur, maupun presiden.
Umar juga seorang ahli strategi
perang, politikus ulung, administrator, dinamisator, stabilisator,
serta ulama ternama sepanjang sejarah peradaban manusia. Beliau tidak hanya
sebagai khalifah atau kepala negara di pusat pemerintahan madinah, tetapi
beliau lebih dari sekedar seorang kepala negara. Beliau merupakan negarawan
elit yang berjiwa filusuf dan humanis, sehingga segala kebijakan yang
dikeluarkannya mengandung kualifikasi kerakyatan, keadilan, dan kebenaran yang
mengintegrasikan pada landasan fundamen, yakni Al-qur’án dan As-sunnah dengan
konstitusi negara. Kepribadian umar yang seperti inilah patut untuk diinternalisasikan ke dalam diri para
politikus bangsa ini. Politikus bangsa Indonesia janganlah menghegemoni rakyat
sebagai sumber penghasil suara untuk kemenangan politik-praktisnya melalui
pengebiran humanisasi dengan cara menciptakan tirani politik uang yang sangat
menciderahi pilar demokrasi pancasila sebagai landasan hidup berbangsa dan
bernegara di Indonesia. Negara ini sudah sangat sering disakiti oleh para
pemimpin yang berkuasa dengan tirani materialnya dan menindas masyarakat kecil
dengan politik materialism pula. Oleh karena itu, saatnyalah negeri kita
tercinta ini diselamatkan dari tangan-tangan kaum opourtunis atau politikus
yang tak humanis dengan cara melahirkan negarawan-negarawan yang bijak, berbudi
pekerti luhur, adil seperti layaknya seorang filsuf.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar