TRANSFORMASI
ESENSIALITAS NILAI ISRA’ MI’RAJ DALAM DUNIA PERGERAKAN
Oleh : Rosya Megawati
Maha
Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al
Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya[847]
agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. ( QS.
AL-ISRAA’: 1)
Ayat tersebut
merupakan lukisan dari
sebuah peristiwa yang
mahadahsyat sepanjang sejarah
peradaban manusia sehingga
tidak ada satu
pun yang bisa
menandinginya. Peristiwa malam
itu ialah Isra’Mi’raj
yang dilakukan oleh
Rasulullah saw., bersama
sahabat dekatnya, yakni Abu Bakar
Ashshiddiq dengan mengendarai
buroq , yakni kendaraan super
cepat dari yang
paling cepat kendaraan
yang dibuat oleh
manusia. Rasulullah saw.,
yang ditemani dengan
sayyidinah Abu bakar Ashshiddiq bersamaan dengan
malaikat jibril melakukan
sebuah perjalanan mulai
dari masjidil Haram
menuju masjidil Aqsha ( Isra’ ) dengan dilanjutkan
perjalanan berikutnya, yakni
dari masjidil Aqsha
menuju Shidrotul Muntaha (
langit ketujuh ) yang dinamakan
dengan peristiwa mi’raj.
Peristiwa di atas
dinamakan dengan Isra’ Mi’raj yang jatuh
pada tanggal 27
Rajab tahun 621 M ( Jawa pos, 6 Juni 2013 ). Isra’ Mi’raj merupakan
peringatan hari besar
umat Islam sedunia
yang bertepatan pada tanggal
6 Juni 2013/1434 H. Isra’ Mi’raj
sebagai suatu momentum
luar biasa yang
tidak mungkin bisa
dijangkau oleh nalar
pikiran manusia . Hal itu
merupakan salah satu
contoh kebesaran Allah
swt.,. Manusia sebagai
makhluq Allah swt.,
yang diberi sebuah
keistimewaan oleh-Nya, yakni
berupa akal pikiran,
maka seyogiyanya merea
berpikir tentang segala
kekuasaan dan kebesaran
ALLAH swt., pemilik
jagat raya beserta
isinya ini.
Isra’
Mi’raj tidak hanya menjadi
peristiwa penting bagi
umat Islam sekaligus
peradaban dunia ini
yang hanya diperingati
sebatas seremon ial saja.
Akan tetapi, Isra’ Mi’raj adalah suatu
sejarah kehidupan dunia
yang murni bersumber
dari Allah swt.,
sehingga di dalamnya
mengandung nilai-nilai luhur
yang harus diaktualisasikan oleh
manusia dalam kehidupan
sehari-harinya, khususnya warga
Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII). Isra’
Mi’raj merupakan momentum
yang sangat tepat
sebagai media perenungan
untuk mengevaluasi segala
proyeksi gerakan PMII selama
ini yang semakin
hari mengalami degradasi
akut, baik secara
individu kader maupun
organisasi.
PMII sebagai
organisasi yang bernafaskan
Islam Ahlussunah Wal jama’ah
yang diintegrasikan dengan
nilai-nilai kebangsaan, intelektual,
progresivitas hadir menjadi
media untuk membangkitkan
kembali peradaban Islam
serta bangsa dengan
cara mentransformasikan nilai-nilai
luhur Islam dan
pancasila di tengah
era globalisasi. PMII
sebagai cover pergerakan
generasi muda Islam
yang berjiwa nasionalis, patriotis, Aswaja,
serta intelektual seyogiyanya
dipahami secara kontekstual-filosofis-terapan, sehingga mampu
terproliferasi ke dalam
pikiran, jiwa, dan
tindakan mereka. Dengan demikian,
kita sebagai kader PMII
memahami peringatan Isra’Mi’raj
secara komprehensif, progresif, dan esensi, sehingga dapat
diketahui dan dipahami
nilai-nilai yang harus
ditransformasikan ke dalam
dunia pergerakan sebagai
upaya untuk revitalisasi
gerakan mahasiswa PMII
di tengah-tengah arus
modernisasi yang syarat
akan pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi,
serta timbulnya ideologi-ideologi Islam
lainnya yang telah
menyimpang dari konsep
ASWAJA.
Adapun nilai-nilai
yang harus diinternalisasikan ke
dalam pergerakan PMII
ialah sebagai berikut:
1. Nilai perjuangan
yang tak pernah
berhenti atau perjuangan
secara totalitas dan
massif dalam menegakkan
kebenaran dan keadilan di
negeri ini untuk
membebaskan masyarakat dari
problematika sosial.
2. Nilai peradaban
yang madani sebagai
tujuan utama dunia
pergerakan PMII dalam
merumuskan kredo-kredo
gerakan yang berperadaban
madani, sehingga kita
tidak terjebak pada
sebuah isu public
maupun konspirasi media
yang telah memperbudak
kita sebagai keledai
intelektual.
3. Nilai kesadaran
kritis-substantif bahwa PMII
adalah organisasi kader
bukan organisasi massa,
sehingga PMII tidak
hanya bergerak dalam
ranah gerakan eksternal
saja, tetapi juga
gerakan internal yang sangat
penting sebagai upaya
untuk mendidik, menumbuhkembangkan potensi
diri kader, khususnya
pengurus, baik tingkat rayon,
komisariat, cabang, coordinator
cabang, maupun pengurus
besar karena mereka
sebagai suri tauladan
bagi calon anggota
atau calon kader
PMII.
4. Nilai Integritas
pergerakan sebagai upaya
untuk menyolidkan internal
kader-kader PMII, baik secara
pikiran, jiwa, maupun
gerakannya agar mampu
membendung disintegrasi yang
ditimbulkan secara emosional
pribadi maupun golongan.
Secara garis besar,
kaum pergerakan PMII
harus mampu memahami analisis
kawan-lawan, sehingga kita
mengetahui siapa kawan
kita dan siapa
lawan kita. Sebagaimana
yang telah disampaikan
oleh Shbt. Aris Karomi, ST, M.Pd.I., saat memberikan
pencerahan intelektual dalam
acara dialog keagamaan
yang diselenggarakan oleh
PC. PMII Sidoarjo pada
tanggal 6 Juni
2013 dengan tema :
“ Kiat-kiat Membentengi Faham ASWAJA di Kalangan Mahasiswa dari Faham
Lain” mengatakan bahwa
kita harus mengetahui atau mengenali
diri sendiri, mengenali
orang lain, mengenali
lingkungan. Dengan cara itu
kita mampu menyatukan
gerakan Kader PMII menuju
integritas pergerakan.
“ SELAMA DARAH INI MASIH MENGALIR
DERAS, NADI BERDENYUT KENCANG, NAFAS MASIH TETAP
ADA, MAKA SELAMA ITU PULA
PERJUANGAN TETAP AKAN
SELALU ADA KARENA PERJUANGAN ADA
JIKA ADA SEBUAH
PEREGERAKAN, DAN PERGERAKAN ADA
JIKA ADA SEBUAH
PENGABDIAN YANG TOTALITAS
DAN TULUS “
Siodoarjo,
7 Juni 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar