REINKARNASI BUDAYA
TIMUR MENUJU INDONESIA YANG BERADAB
Oleh: Rosya Megawati
No. telp.
083849430324
Indonesia selalu dirundung duka dan
kepiluan yang sangat mendalam. Ibu pertiwi kembali meneteskan air mata
kesedihan karena meratapi segala musibah atau cobaan yang bertubi-tubi. Belum
lagi merasakan represi psikis yang sangat akut di derita oleh ibu pertiwi
karena melihat anak-anaknya tak beradab. Tak heran negeri ini mendapatkan
banyak musibah seperti banjir, gempa bumi, gunung meletus, tsunami, tanah
longsor, maupun musibah sosio-kultural. Inilah potret bangsa Indonesia saat
ini. Pertanyaan yang mendasar dari timbulnya banyak musibah dan bencana yang
melanda di negeri ini ialah apakah hal itu merupakan ujian bagi bangsa
Indonesia dari Allah swt., agar dapat mencapai derajat paling tinggi di
sisi-Nya? Ataukah sebuah adzab sebagai teguran dari Allah swt., untuk bangsa
Indonesia karena banyak melanggar aturan-aturan budaya ketimuran? Hal itu telah
menjadi wacana yang amat penting untuk direnungkan, dikaji, serta di analisis
dan diperbaiki agar ibu pertiwi tak lagi meneteskan air mata dan tak tersakiti
psikisnya.
Indonesia adalah negara yang
beragama dan berketuhanan. Sebagaimana yang termaktub dalam Undang-undang Dasar
(UUD) 1945 pasal 29 ayat 1 dan pancasila pada sila ke-1. Kedua landasan yuridis
tersebut telah mengindikasikan bahwa norma-norma agama merupakan perisai
kehidupan dalam berbangsa dan bernegara di Indonesia. Indonesia telah
menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan, sosial-budaya, agama agar mampu
mengaktualisasikan suatu bangsa yang beradab serta berkarakter pancasila.
Indonesia sebagai bagian dari negara yang telah menerapkan nilai-nilai budaya
ketimuran, yakni lebih berorientasi pada tatakrama, akhlaq, dan akal budi
daripada pragmatisme kehidupan seperti budaya hedonisme dan glamorisme. Adanya
nilai-nilai agama, seperti kemuliaan akhlaq, hati, dan pikiran di dalam diri
manusia serta diintegrasikan dengan nilai-nilai karakter bangsa Indonesia,
yakni pancasila telah
mengantarkan manusia pada kedudukan yang paling tinggi di hadapan Allah swt.,
yakni menjadi pemimpin di muka bumi serta hamba-Nya yang beradab. Retorika
itulah yang menjadi pembeda antara manusia dengan hewan atau binatang dan
tumbuh-tumbuhan sebagai makhluq Allah swt., di muka bumi.
Allah swt., telah memberikan dan
menempatkan manusia pada kedudukan yang paling mulia di sisi-Nya sebagai khalifah
di muka bumi ini diantara makhluq-makhluq-Nya yang lain. Sebagaimana
tergoreskan di dalam kitabullah, yakni QS. Al-Baqarah:30. Selain itu, Allah
swt., juga membekali manusia dengan akal pikiran dan kalbu sebagai intisari
kemanusiaan agar selalu bersinergi dalam menyelami lautan kehidupan. Manusia
diperintahkan oleh Allah swt., untuk selalu berpikir tentang segala sesuatu
supaya ia mampu mencapai jalan kebenaran serta kebijaksanaan yang haqiqi,
sehingga tidak dihegemoni oleh gemerlapnya dunia sebagai tipu daya yang sangat
nyata. Manusia sebagai insanul kamil
ulil albab secara fitrahnya dilandasi dengan keimanan dan keilmuan yang
komprehensif serta utuh.
Keimanan yang akan mengantarkan
manusia pada ketaqwaan. Kemudian ketaqwaan yang akan mengantarkan manusia pada
substansi keilmuan, sehingga diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari, maka
akan terciptalah manusia yang bermartabat dan beradab mulia sebagai
representasi corak kehidupan berbangsa dan bernegara yang universal dan
beradab. Namun, apakah secara fakta dan aktual masyarakat Indonesia memanifestasikan
nilai-nilai budaya ketimuran, baik secara pribadi, komunal, maupun bernegara?
Ternyata masyarakat Indonesia dengan sadar dan sengaja telah mematikan nilai
budaya ketimuran dan justru melahirkan budaya kebaratan yang sarat akan
hedonisme serta glamorisme. Masyarakat kita telah dihegemoni oleh kemewahan
duniawi yang hanya kamuflase belaka, sehingga mereka terjerumus pada kemiskinan
akhlaq, agama, dan kearifan lokal.
Dewasa ini, kita sering melihat
fenomena yang dapat membuat matajasmani maupun rohani mengalami iritasi akut
tentang prilaku masyarakat Indonesia yang tak beradab, tetapi menjurus pada amoralisasi.
Banyak sekali orang menghambur-hamburkan
uangnya untuk pergi umroh. Akan tetapi, itu semuanya hanyalah kamuflase di
balik pakian putih nan suci mereka untuk memberikan pencitraan yang baik di
depan publik. Mereka telah mengerdilkan substansi haji dan umroh dengan cara
memperlihatkan tirani materi atau finansial. Allah swt., hanya ditinggalkan di
dalam masjidil haram, sehingga ketika kembali ke tanah air, mereka kembali pada
keadaan asalnya, yakni glamoritas dengan dalih yang tak rasional dengan alasan
bahwa hati mereka belum siap lahir dan batin atau belum mendapatkan hidayah
dari Allah swt. Terlebih lagi, fenomena yang telah tercover di dalam diri
wanita Indonesia secara mayoritas. Mereka berani menelanjangi auratnya hanya
dengan selembar kain yang tak berjahit. Sungguh sangat ironis sekali ketika
mereka katakan itu semua adalah trend masyarakat modern, tuntutan kerja,
memancarkan kecantikan hati (inerbeuty), otaknya cerdas tetapi dengan pakaian
yang tak bermoral atau abal-abal tidak masalah.
Negeri ini
berada diantara dimensi keterpurukan identitas bangsa sebagai karakter budaya
ketimuran. Indonesia tidak lagi menjadi negara yang berperadaban dan
bermartabat karena masyarakatnya telah menelanjangi atau mengontaminasi nilai-nilai
luhur bangsa yang berbudaya timur dengan budaya modern ala barat yang
berfatamorgana menjadi popularitas atau kekuatan klaim sebagai upaya untuk
memposisikan negara Indonesia di tempat yang setara dengan negara-negara maju.
Seperti halnya fenomena kontes kecantikan yang saat ini menjadi primadona bagi
wanita-wanita di seluruh dunia, baik dalam tingkat regional, nasional, maupun
global.
Kontes
kecantikan yang marak saat ini di Indonesia merupakan salahsatu contoh potret
mengerdilan terhadap budaya Indonesia sebagai warisan budaya ketimuran yang
memiliki kualifikasi akan nilai budaya, agama, dan kearifan lokal. Kontes
kecantikan di Indonesia yang membawa citra atau nama baik bangsa di mata dunia
perlu ditelah atau dikaji ulang akan kualifikasi perempuan yang cerdas, memiliki kecantikan hati, dan
berperilaku mulia. Mengapa harus dianalisis secara mendalam? Coba kita amati
tentang tata cara berbusana para perempuan Indonesia yang sangat dikotomi
dengan karakter bangsa Indonesia. Mereka memang wanita-wanita pilihan yang
cerdas dan berintelektual, sehingga dapat memberikan warna bagi peradaban
bangsa Indonesia, tetapi kecantikan hati mereka telah dikontaminasi dengan budaya
barat yang diklaim sebagai suatu upaya modernisasi budaya Indonesia agar
relevan dengan kemajuan zaman. Retorika di atas mengandung suatu paradoksial
yang kritis antara tujuan luhur kontes kecantikan tersebut dengan aktualisasi
yang terjadi secara empiris.
Dengan demikian,
perlu adanya upaya untuk reinkarnasi budaya timur yang sarat akan nilai-nilai
moral, humanis, agama, kearifan lokal, susila, dan etika. Melalui reinkarnasi
secara berkelanjutan dan kontinuitas ini akan menyelamatkan negeri ini dari
budaya-budaya amoralisasi dan dehumanisasi. Wanita sebagai tiangnya negara,
maka selayaknyalah wanita Indonesia menjaga kehormatan dan kemartabatan dirinya
sebagai manusia yang beradab, berbudaya, dan beretika sesuai dengan nilai-nilai
kearifan local bangsa Indonesia sebagai warisan budaya timur dengan busana yang
sopan serta humanis, bukan busana yang abal-abal atau memperlihatkan keindahan
jasmani mereka. Apabila tiang dari negara ini rapuh atau roboh, maka robohlah
negara ini, sehingga bencana terjadi di mana-mana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar