Minggu, 02 Maret 2014

SISI POSITIF DARI AJANG MISS WORLD 2013 UNTUK INDONESIA



SISI POSITIF DARI AJANG MISS WORLD 2013 UNTUK INDONESIA
Oleh: Rosya Megawati
                                                           No. Hp: 083849430324                                      
Aktivis PMII SIDOARJO
Penyelenggaraan Miss World 2013 yang akan dilaksanakan pada tanggal 28 September 2013 di Nusa Dua, Bali telah banyak menuai pro dan kontrak dari berbagai kalangan masyarakat tanah air. Kontes kecantikan tingkat dunia tersebut merupakan kontes kecantikan wanita-wanita dunia yang tertua, yakni dimulai sejak tahun 1951 M. Pada tahun 2013 inilah menjadi kebanggaan bagi Indonesia sendiri yang telah diberi kesempatan untuk menjadi tuan rumah pertama kali se-Asia Tenggara. Namun, hal itu tidak luput dari banyak kecaman berupa pro dan kontrak terkait pelaksanaan Miss World 2013 di Indonesia. Adanya kontradiksi tersebut merupakan suatu hal yang wajar bagi perjalanan kehidupan demokrasi di Indonesia.
Perbedaan pendapat dalam pelaksanaan Miss World 2013 merupakan salahsatu bagian dari kehidupan demokrasi Indonesia . Akan tetapi, perlu ditelaah kembali mengenai fenomena kontradiksi pelaksanaan Miss World 2013 di Bali, Indonesia jangan sampai ditanggapi dengan sikap yang anarkis atau arogan dari salahsatu kelompok, golongan tertentu yang dapat mencoreng arang dikening tanah air ini di hadapan cerminan masyarakat dunia. Dengan kata lain, masyarakat Indonesia yang menentang pelaksanaan Miss World 2013 di Indonesia sebaiknya direspon dengan sikap yang lebih bijak dan dewasa, sehingga tidak hanya berteriak sebagai wujud tidak setuju peyelenggaraan kontes kecantikan tersebut, tetapi tidak memberikan suatu solusi yang bermanfaat bagi keanekaragaman Indonesia maupun reputasi bangsa Indonesia di mata dunia.
Saya tidak bisa menyalahkan mereka yang menentang adanya Miss World 2013 di Indonesia. Sebab, kontes kecantikan tersebut cenderung lebih banyak mengadopsi budaya western atau kebarat-baratan dengan menampilkan sesi gaun renang (bikini). Hal itu, sangatlah bertentangan dengan jatidiri bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berbudaya ketimuran serta menjunjung tinggi nilai estetika yang berkesopanan dan kearifan lokal, sedangkan budaya barat terkait penampilan berpakaian sangatlah bebas dan jauh dari nilai-nilai etika dan agama. Selain itu, bagi elemen masyarakat Indonesia yang menentang telah memberikan rasionalisasinya bahwa mereka menganggap kalau Miss World 2013 merupakan ajang yang akan mengeksploitasi keindahan wanita dunia dari sisi fisik serta mengebiri nilai-nilai agama sebagai cerminan fitrah perempuan yang memiliki nilai kemartabatan yang harus dilindungi dari kehinaan.
Saya pun sebenarnya juga tidak setuju adanya kontes kecantikan seperti Miss World 2013 atau sejenisnya karena penilaiannya lebih kepada kecerdasan otak, keindahan fisik, kepedulian sosial yang fenomenal atau sesuatu yang dapat diukur dengan angka maupun jawaban kontestan dari pertanyaan dewan juri. Penilaiannya tidak melibatkan nilai etika, estetika kepribadian diri maupun sosial  yang substantif  bukan pragmatis, serta nilai-nilai martabat perempuan dunia yang selalu menjaga lekukan tubuhnya dari mata negatif. Namun, kita sebagai warga negara Indonesia atau masih berteduh di tanah air Indonesia seharusnya menghegemoni diri kita dengan nilai-nilai positif dari ajang Miss World 2013 untuk Indonesia. Artinya, bukan masalah teknik penyelenggaraannya yang sangat vulgar dan jauh dari nilai-nilai budaya timur yang dianut oleh Indonesia, tetapi lebih melihat dengan kacamata positif untuk Indonesia sendiri, yakni sebagai wahana untuk mengeksplorasi keindahan dan kecantikan yang terpancar dari dalam diri tanah air Indonesia.
Indonesia merupakan negara satu-satunya di dunia yang memiliki kekayaan budaya dan alam yang luar biasa dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Inilah yang menjadi  the power of value bagi bangsa Indonesia sendiri yang terpancar di dalam diri masyrakat Indonesia dengan keramah tamahannya, kesopanan, dan tutur katanya yang lemah lembut terhadap masyarakat dunia. Negara manapun di dunia tidak ada yang memiliki ribuan telah mengajarkan kebudayaan serta milyaran pesona alam di tanah garuda yang alami dan variatif . Satu negara memiliki bermacam-macam adat, bahasa, budaya, agama, dan suku, yakni Indonesia.
Adanya Miss World 2013 di Indonesia ini pada kita untuk lebih dewasa dan bijak dalam menanggapi semua problematika kehidupan, khususnya problematika bangsa Indonesia dengan cara berpikir, berjiwa, dan bertindak positif melalui upaya yang continue dalam menggali nilai-nilai kebenaran dan keluhuran yang berkearifan lokal. Artinya, melalui Miss World 2013 ini secara tak sengaja telah menunjukkan dan membuktikan kepada dunia akan keanekaragaman budaya, bahasa, suku, adat istiadat, alam, dan agama yang dimiliki oleh negara Indonesia, sehingga dapat dijadikan sebagai legitimasi kekayaan khas Indonesia agar tidak direbut atau dikuasai untuk diakui oleh negara lain sebagai kekayaan miliknya sendiri.
Ajang Miss World 2013 di Indonesia yang bertempat di Nusa Dua, pulau dewata, Bali dengan tema “Bring Indonesian’s Beauty To The World” telah menjadi saksi nyata akan jatidiri bangsa Indonesia yang luhur, bermartabat, santun, dan bersatu meski hidup ditengah-tengah heterogensi masyarakat dan budayanya, sehingga dapat menepis pemberitaan dunia selama ini tentang Indonesia yang dijadikan sebagai gudangnya teroris, masyarakat bertangan besi, korupsi, terpuruk, dan instan. Ajang Miss World 2013 juga dapat dijadikan sebagai cerminan atau introspeksi diri kita sebagai masyarakat Indonesia , khususnya para elit politik senayan, pejabat, penegak hukum, dan generasi muda tanah air untuk mulai menyadarkan diri serta merekonstruksi nilai-nilai estetika hati, estetika pemikiran, estetika prilaku, dan kreativitas yang produktif sesuai dengan karakter bangsa Indonesia sebagai negara yang berbudaya, berketuhanan, demokrasi pancasila, dan toleransi akan heterogensi masyarakatnya sendiri.
Dengan demikian, penyelenggaraan Miss World di Indonesia pada tahun 2013 sekarang ini perlu dicermati tipologi negara kita apakah sebagai negara yang berasaskan Islam fundamen, sekuler, atau moderat? Apabila negara kita adalah negara Islam yang tradisionalis atau fundamentalis, maka segala regulasi kehidupan masyarakat Indonesia beserta pemerintahannya mengimplementasikan ajaran Islam tradisional sebagai konstitusi negara, sehingga pelaksanaan Miss World 2013 di Indonesia boleh ditolak kehadirannya karena tidak sesuai dengan konstitusi ajaran Islam yang dianut oleh negara Indonesia. Namun, jika negara kita merupakan katagori negara sekuler yang memisahkan antara agama dengan negara karena sistem kehidupan negara tidak ada kaitannya dengan regulasi ajaran agama Islam, maka pelaksanaan Miss World 2013 di Indonesia tidak dapat ditolak kehadirannya. Akan tetapi, jika negara Indonesia berada dikatagori negara yang moderat, yakni negara yang mampu beradabtasi dengan kemajuan zaman tanpa menghilangkan karakter kearifan lokal bangsa Indonesia atau mampu memelihara nilai-nilai keluhuran bangsa Indonesia di tengah kehidupan modernisasi zaman, sehingga nilai-nilai agama, budaya, ataupun kearifan lokal tetap tumbuh subur di dalam kehidupan masyarakat Indonesia, maka pelaksanaan Miss World 2013 dapat dilaksanakan di Indonesia dan diterima kehadirannya sebagai tamu yang berkunjung ke Indonesia yang harus kita hormati, hargai, dan dilindungi akan keselamatannya sebagai wujud toleransi kita pada mereka. Bukankah pihak penyelenggara Miss World 2013 telah menghargai keputusan kita untuk tidak ada sesi menggunakan pakaian renang (bikini), tetapi diganti dengan pakaian yang dikombinasi dengan sarung batik bali.
Ibarat ada seorang tamu dengan berpakaian yang tidak sesuai dengan karakter kita telah berkunjung ke rumah kita, apakah kita harus mengusirnya dengan semena-mena hanya karena mereka berpakaian yang tidak sesuai dengan karakter kita? Padahal mereka berkunjung ke rumah kita dengan cara dan niat yang baik, yakni menjalin silaturahim dan mempererat tali persaudaraan agar tidak terjadi permusuhan dunia. Hal ini sebagai upaya untuk berpartisipasi dalam perdamaian dunia dengan cara menerima mereka dengan sikap yang toleran dan santun. Seharusnya kita menampilkan karakter bangsa Indonesia yang sesungguhnya kepada dunia, yakni masyarakat yang ramah, santun, toleran, dan tak pandang bulu dalam bergaul.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar